AI Akan Menjadi Alat Bantu Strategis untuk Mendeteksi Halal Secara Dini.
Oleh HUMAS
Purwokerto (Humas) – Dalam upaya memperkuat sistem deteksi kehalalan produk di era digital, Universitas AMIKOM Purwokerto menggelar sebuah webinar internasional bertajuk “AI sebagai Alat Bantu Strategis untuk Mendeteksi Halal” Acara ini menjadi ajang kolaborasi lintas keilmuan dan negara untuk mengeksplorasi peran teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam mendukung industri halal yang terus berkembang. Jumat, (18/07)
Webinar ini menghadirkan narasumber ternama seperti Prof. Rifda Naufalin dari Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), yang membahas aspek ilmiah dan keamanan pangan halal, Yudi Budianto, S.Kom dari Kantor Kementerian Agama Banyumas, yang menyoroti peran regulasi dalam sertifikasi halal, Dr. Eng. Wildan Panji Tresna dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang memperkenalkan inovasi AI buatan anak bangsa untuk identifikasi produk halal, dan Gehad Omara dari EFTAX, selaku konten creator yang juga sebagai peneliti terkait produk halal di jepang, serta diikuti ratusan peserta webinar dari seluruh Indonesia.
Sebagai keynote speaker adalah Dr. Eng. Imam Tahyudin, M.M., Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas AMIKOM Purwokerto, yang juga menjadi penggagas utama webinar. Dan Achmad Ghazali, Ph.D., Ketua PCNU Jepang.
Dalam sambutannya Imam Tahyudin menekankan bahwa AI dapat mempercepat proses verifikasi halal dan meningkatkan transparansi industri. “ Harapan kami dengan adanya deteksi dini berbasis AI ini bisa berkontribusi untuk membantu para stekholder, baik itu BPOM, Kementerian Agama, Dinas pariwisata, Dinas pertanian dan dinas lainnya, dan ini menjadi hal yang sangat penting terkait deteksi halal.” Terangnya
Webinar ini membuka ruang diskusi yang progresif antara akademisi, pemerintah, dan praktisi teknologi halal. Tantangan serta solusi penggunaan AI di industri halal, termasuk isu integritas data, standar global, dan potensi kolaborasi lintas lembaga menjadi topik utama webinar.
“ Perkembangn halal di Jepang saat ini luar biasa, ini tidak heran karena perkembangan Islam di Jepang sangat luarbiasa, meskipun industry halal di jepang berkembang pesat, tapi kami masih mengalami kesulitan karena harus mentranslate ingerdiant ke bahasa Indonesia. Dan itu tidak semua orang bisa memastikan halal atau tidak, karena tidak semua orang memiliki bekal untuk mengetahui halal atau haram.” Jelasnya.
“ Kami sangat mengapresiasi dengan adanya kegiatan ini, dimana menggunakan AI sebagai salah satu alat deteksi halal. Di jepang juga ada alat pendeteksi halal dengan menggunakan barcode, tapi masih belum lengkap.” Jelas Achmad Ghazali.
Universitas AMIKOM Purwokerto melalui kegiatan ini menegaskan komitmennya sebagai pelopor inovasi digital yang berpihak pada nilai-nilai keislaman dan keberlanjutan.(yud)
2.png)