HUT RI #81

Bangun Rumah Tangga yang Harmonis, Kuat, dan Penuh Keberkahan

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas – Di sebuah ruangan yang sederhana namun penuh makna di Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, dua calon pengantin duduk berdampingan dengan wajah yang memancarkan harapan. Mereka adalah Rofiul Majid dan Atik Solihatun, pasangan yang tengah bersiap menapaki gerbang kehidupan baru. Sebelum mengucapkan janji suci pernikahan, keduanya mendapatkan bekal berharga melalui kegiatan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang disampaikan oleh Dwi Astuti, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang. Kamis (25/06)

Dalam kegiatan tersebut, Dwi Astuti memberikan materi tentang kedewasaan hubungan suami istri, sebuah tema yang menjadi fondasi penting dalam membangun rumah tangga yang harmonis, kuat, dan penuh keberkahan.

Suasana bimbingan berlangsung hangat dan komunikatif. Tidak sekadar menyampaikan teori, Dwi Astuti mengajak calon pengantin memahami bahwa pernikahan bukan hanya tentang bersatunya dua insan yang saling mencintai, tetapi juga tentang kesiapan hati untuk saling menerima, saling menguatkan, dan saling bertumbuh dalam berbagai keadaan kehidupan.

Menurutnya, kedewasaan dalam hubungan suami istri tercermin dari kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik, menghargai pasangan, mengelola perbedaan, serta menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin dan hati yang lapang.

"Rumah tangga yang bahagia tidak lahir karena tidak adanya masalah, tetapi karena adanya kedewasaan dalam menghadapi setiap persoalan bersama-sama," tutur Dwi Astuti dengan penuh kelembutan.

Pesan tersebut mengalir seperti mata air yang jernih, menyentuh hati calon pengantin yang menyimaknya dengan penuh perhatian. Setiap kalimat yang disampaikan menjadi bekal berharga untuk menghadapi perjalanan panjang kehidupan berumah tangga yang kelak akan mereka jalani.

Dalam kesempatan itu, Dwi Astuti juga mengingatkan bahwa cinta yang sesungguhnya tidak hanya tumbuh saat kebahagiaan datang, tetapi justru semakin kuat ketika diuji oleh keadaan. Pernikahan adalah ruang belajar yang tidak pernah selesai, tempat dua manusia saling melengkapi kekurangan dan merayakan kelebihan masing-masing.

Bagi Rofiul Majid dan Atik Solihatun, bimbingan tersebut menjadi momen refleksi yang mendalam. Di tengah persiapan menuju hari bahagia, mereka diajak memahami bahwa akad nikah bukanlah garis akhir dari sebuah perjalanan cinta, melainkan langkah awal menuju tanggung jawab yang lebih besar.

Kegiatan Bimbingan Perkawinan yang dilaksanakan KUA Jatilawang merupakan bagian dari upaya membangun keluarga yang berkualitas dan tangguh. Melalui pembekalan tersebut, calon pengantin diharapkan memiliki kesiapan mental, emosional, dan spiritual dalam mengarungi kehidupan rumah tangga.

Di balik lembar materi yang dipelajari dan nasihat yang disampaikan, tersimpan harapan besar agar setiap pasangan mampu membangun rumah yang tidak hanya berdiri kokoh oleh dinding dan atap, tetapi juga dipenuhi kasih sayang, pengertian, dan ketulusan.

Sore itu, tidak ada tepuk tangan meriah ataupun perayaan besar. Namun di ruangan sederhana tersebut, sedang ditanam benih-benih kebijaksanaan yang kelak akan tumbuh menjadi pohon kehidupan. Pohon yang akarnya adalah keimanan, batangnya adalah tanggung jawab, rantingnya adalah kesabaran, dan buahnya adalah kebahagiaan keluarga.

Karena sesungguhnya, pernikahan yang langgeng tidak dibangun dalam sehari. Ia dirawat melalui kedewasaan, dipelihara dengan pengorbanan, dan disirami oleh cinta yang terus diperbarui setiap waktu. Dan melalui Bimbingan Perkawinan itu, KUA Jatilawang kembali meneguhkan perannya sebagai tempat menyiapkan lahirnya keluarga-keluarga yang kelak menjadi sumber cahaya bagi masyarakat, bangsa, dan masa depan.