Bimwin KUA Jatilawang : Taklukan Ego Demi Keharmonisan Rumah Tangga
Jatilawang – Pernikahan bukan tentang siapa yang paling benar, siapa yang harus selalu mengalah, atau siapa yang berhak memenangkan setiap pertengkaran. Pernikahan adalah perjalanan dua hati yang belajar saling memahami, merendahkan ego, dan tetap bergandengan tangan meski sesekali berbeda pandangan. Jumat (23/10)
Pesan penuh makna tersebut disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin (catin) dengan materi “Menghilangkan Ego untuk Keharmonisan Rumah Tangga.”
Dalam bimbingannya, Muhammad Taubah mengingatkan bahwa salah satu tantangan dalam kehidupan rumah tangga adalah keinginan untuk selalu menang sendiri. Ego yang tidak terkendali dapat membuat persoalan kecil membesar, kata-kata lembut berubah menjadi bentakan, dan perbedaan pendapat menjelma menjadi jarak di antara dua orang yang dahulu saling berjuang untuk bersama.
Ia mengajak calon pengantin memahami bahwa mengalah bukan berarti kalah, meminta maaf bukan tanda kelemahan, dan mendengarkan pasangan bukan berarti kehilangan harga diri. Justru, keberanian mengakui kesalahan dan kesediaan memahami perasaan pasangan merupakan bentuk kedewasaan dalam mencintai.
Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an surah Ar-Rum ayat 21 tentang penciptaan pasangan agar manusia memperoleh ketenteraman, serta kasih sayang di antara mereka. Nilai sakinah, mawaddah, wa rahmah tidak tumbuh hanya dari kata-kata romantis, tetapi juga dari kesabaran, penghormatan, dan kesediaan merawat cinta setiap hari.
Muhammad Taubah menegaskan bahwa rumah tangga yang harmonis bukanlah rumah tangga tanpa pertengkaran, melainkan rumah tangga yang mampu menyelesaikan perbedaan tanpa merendahkan, menyakiti, atau menghilangkan rasa aman satu sama lain.
Sebab, terkadang yang membuat cinta perlahan memudar bukanlah hilangnya kasih sayang, melainkan ego yang terus dipelihara. Ada hati yang menangis dalam diam, bukan karena tidak lagi mencintai, tetapi karena lelah berjuang sendirian untuk dimengerti.
Melalui Bimwin ini, calon pengantin diajak membangun rumah tangga dengan hati yang lapang, komunikasi yang jujur, dan kesediaan untuk terus belajar bersama. Sebab, pernikahan yang kuat bukan dibangun oleh dua manusia yang selalu merasa benar, melainkan oleh dua insan yang bersedia memperbaiki diri demi menjaga cinta yang telah Allah SWT titipkan.
