HUT RI #81

Birokrasi KUA Jatilawang yang Humanis, Tulus dan Santun

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas – Ada dokumen yang nilainya jauh melampaui selembar kertas. Di dalam buku nikah tersimpan ikrar suci yang pernah diucapkan di hadapan Allah SWT, menjadi saksi lahirnya sebuah keluarga dan awal perjalanan panjang dua insan mengarungi kehidupan bersama. Ketika dokumen berharga itu hilang, yang dicari bukan hanya penggantinya, melainkan juga kepastian hukum dan ketenangan hati. Jumat (26/06)

Dengan penuh keramahan dan ketelitian, Muji Riyanti, staf Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, memberikan pelayanan kepada warga yang sedang mengurus proses penerbitan duplikat buku nikah karena dokumen asli hilang. Pelayanan dilakukan dengan memeriksa kelengkapan persyaratan, memberikan penjelasan mengenai prosedur yang harus ditempuh, serta mendampingi pemohon agar seluruh proses administrasi berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pelayanan tersebut merupakan bagian dari komitmen KUA Jatilawang dalam menghadirkan pelayanan publik yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Setiap permohonan ditangani dengan cermat agar masyarakat memperoleh kepastian hukum atas dokumen perkawinan yang menjadi salah satu dasar berbagai urusan administrasi negara.

Muji Riyanti melayani setiap warga dengan sikap sabar dan penuh empati. Ia memahami bahwa kehilangan buku nikah sering kali menghadirkan kecemasan, terutama ketika dokumen tersebut dibutuhkan untuk mengurus administrasi kependudukan, pendidikan anak, pelayanan kesehatan, maupun keperluan hukum lainnya. Karena itu, setiap penjelasan diberikan dengan bahasa yang mudah dipahami, sehingga masyarakat merasa tenang dan terbantu.

Di balik tumpukan berkas yang diperiksa satu per satu, tersimpan kisah-kisah keluarga yang ingin menjaga keutuhan identitas mereka. Ada yang kehilangan buku nikah akibat musibah, ada pula yang baru menyadari pentingnya dokumen tersebut ketika harus memenuhi persyaratan administrasi. Apa pun latar belakangnya, semua diterima dengan penghormatan yang sama sebagai warga yang berhak memperoleh pelayanan terbaik.

Suasana di ruang pelayanan KUA Jatilawang mencerminkan wajah birokrasi yang semakin humanis. Senyum yang tulus, tutur kata yang santun, dan ketelitian dalam bekerja menjadi jembatan yang mengubah kecemasan menjadi harapan. Pelayanan tidak lagi sekadar menyelesaikan proses administrasi, tetapi juga menghadirkan rasa aman bagi masyarakat yang sedang membutuhkan.

Sesungguhnya, pengabdian tidak selalu diwujudkan melalui pekerjaan yang tampak besar. Ia hadir dalam kesabaran mendengarkan setiap cerita, dalam ketelitian memeriksa setiap dokumen, dan dalam keikhlasan membantu warga mendapatkan kembali bukti sah dari ikatan suci yang telah mereka bangun bertahun-tahun lamanya.

Melalui pelayanan pengurusan duplikat buku nikah, Muji Riyanti menunjukkan bahwa aparatur negara bukan hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga menjaga hak-hak masyarakat dengan penuh tanggung jawab. Sebab, setiap dokumen yang berhasil diterbitkan bukan sekadar pengganti yang hilang, melainkan simbol hadirnya negara yang memberikan kepastian, merawat kepercayaan, dan menguatkan perjalanan sebuah keluarga.

Di KUA Jatilawang, setiap pelayanan adalah wujud pengabdian. Dari meja pelayanan yang sederhana, lahir ketulusan yang menghidupkan harapan, menghadirkan ketenangan, dan mengingatkan bahwa di balik setiap lembar dokumen terdapat kisah cinta, perjuangan, dan doa yang layak dijaga sepanjang masa.