HUT RI #81

Doa yang Menghangatkan di Tengah Demam

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas – Kesunyian ruang perawatan Puskesmas Kecamatan Jatilawang berubah menjadi lebih hangat ketika Muhammad Asyhadi, Abdul Khanan, dan Dwi Astuti, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, hadir menjenguk sekaligus memberikan pendampingan rohani kepada Bapak Tarno, warga Desa Tunjung, yang sedang menjalani perawatan akibat mengalami panas dingin. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari pelayanan keagamaan yang menghadirkan sentuhan kemanusiaan, memperkuat keimanan, serta menghidupkan kembali semangat bagi mereka yang sedang diuji dengan sakit. Rabu (08/07)

Dalam suasana yang penuh kekeluargaan, ketiga penyuluh agama membimbing Bapak Tarno mengenai tata cara bertayamum sebagai pengganti wudu ketika kondisi tubuh tidak memungkinkan menggunakan air. Mereka juga menjelaskan tata cara melaksanakan shalat dalam keadaan sakit sesuai tuntunan syariat Islam, sehingga ibadah tetap dapat ditegakkan tanpa mengabaikan kondisi kesehatan. Setiap penjelasan disampaikan dengan penuh kesabaran, kelembutan, dan kasih sayang, sehingga ilmu agama terasa hadir sebagai penyejuk hati yang sedang gelisah.

Tidak hanya memberikan bimbingan ibadah, Muhammad Asyhadi, Abdul Khanan, dan Dwi Astuti mengajak Bapak Tarno beserta keluarga untuk bersama-sama memanjatkan doa kepada Allah SWT. Dengan penuh kekhusyukan, mereka memohon agar Allah mengangkat penyakit yang diderita, memberikan kesembuhan yang sempurna, menguatkan hati dalam menjalani ikhtiar pengobatan, serta melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada seluruh keluarga yang setia mendampingi.

Di sela-sela doa, mereka menyampaikan motivasi bahwa setiap rasa sakit bukanlah tanda Allah menjauh, melainkan salah satu cara-Nya mendekatkan hamba kepada kasih sayang-Nya. Kesabaran yang dijalani dengan ikhlas akan bernilai ibadah, sedangkan setiap tetes air mata yang jatuh karena ujian akan diganti dengan kemuliaan yang tidak pernah sia-sia di sisi-Nya. Kata-kata yang sederhana namun sarat makna itu membuat suasana ruang perawatan dipenuhi harapan dan ketenangan.

Kegiatan pendampingan tersebut merupakan wujud nyata komitmen KUA Jatilawang dalam menghadirkan pelayanan keagamaan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Penyuluh agama tidak hanya menyampaikan dakwah di masjid, mushala, atau majelis taklim, tetapi juga hadir di tempat-tempat di mana masyarakat sedang membutuhkan penguatan jiwa. Pendampingan spiritual seperti ini menjadi bukti bahwa pelayanan publik yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan mampu menghadirkan kehangatan yang tidak dapat diukur dengan materi.

Di balik tubuh yang menggigil karena demam, tersimpan hati yang terus belajar bertahan. Dan di balik doa-doa yang lirih dipanjatkan di ruang perawatan itu, tumbuh keyakinan bahwa harapan selalu memiliki jalan untuk kembali menyala. Sebab ada luka yang disembuhkan oleh obat, tetapi ada pula kegelisahan yang hanya dapat dipulihkan oleh kasih sayang, kepedulian, dan doa yang tulus. Ketika ilmu agama menyapa dengan kelembutan, ketika tangan saling menggenggam dalam keikhlasan, dan ketika hati berserah sepenuhnya kepada Allah SWT, maka bahkan ruang perawatan yang sederhana pun dapat berubah menjadi tempat lahirnya kekuatan, ketabahan, dan harapan baru.