Ikatan Suci Yang Diiringi Doa Mengalir Lirih Ke Langit

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Di Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, dua hati dipersatukan dalam ikatan suci yang tak hanya disaksikan oleh manusia, tetapi juga diiringi doa-doa yang mengalir lirih ke langit. Pada hari yang penuh berkah itu, prosesi pencatatan nikah dan ijab qabul pasangan Dedi dan Eni dari Desa Pekuncen berlangsung dengan khidmat dan menggetarkan jiwa. (Senin, 13/4)

Prosesi tersebut dipimpin oleh Iskandar Zulkarnain selaku penghulu yang dengan penuh ketenangan menuntun jalannya akad. Dengan suara yang tegas namun lembut, beliau memastikan setiap rukun dan syarat terpenuhi, menghadirkan suasana yang tidak hanya sakral, tetapi juga menyentuh relung hati.

Saat ijab qabul diucapkan, waktu seolah berhenti sejenak. Kalimat yang singkat namun penuh makna itu meluncur dari lisan mempelai pria dengan keyakinan yang tulus. Dalam satu tarikan napas, janji suci terpatri—mengikat dua jiwa dalam satu perjalanan panjang bernama rumah tangga. Saksi-saksi yang hadir pun terdiam, beberapa menunduk haru, menyaksikan momen yang tak sekadar seremoni, tetapi awal dari kisah kehidupan yang baru.

Air mata kebahagiaan tak dapat disembunyikan. Di sudut ruangan, keluarga kedua mempelai tampak larut dalam rasa syukur. Mereka menyadari, hari itu bukan hanya tentang penyatuan dua insan, tetapi juga tentang bertemunya dua keluarga dalam ikatan kasih yang lebih luas.

Dalam nasihat pernikahannya, Iskandar Zulkarnain menyampaikan pesan yang sederhana namun dalam. Ia mengingatkan bahwa pernikahan bukan hanya tentang cinta yang dirasakan hari ini, tetapi tentang kesetiaan yang harus dijaga setiap hari. “Rumah tangga adalah perjalanan panjang. Akan ada bahagia dan ujian. Namun jika dijalani dengan sabar, saling memahami, dan menguatkan dalam iman, maka cinta akan selalu menemukan jalannya,” tuturnya penuh keteduhan.

Pencatatan nikah pun dilaksanakan dengan tertib sebagai bentuk pengakuan negara atas ikatan yang telah sah secara agama. Sebuah langkah penting yang memastikan bahwa cinta mereka tidak hanya diikat oleh janji, tetapi juga dilindungi oleh hukum.

Ketika prosesi usai, senyum dan haru berpadu menjadi satu. Dedi dan Eni kini melangkah sebagai pasangan suami istri, membawa harapan yang besar dalam genggaman doa. Di balik kesederhanaan tempat dan suasana, tersimpan keindahan yang tak tergantikan—bahwa cinta sejati tak selalu membutuhkan kemewahan, cukup keikhlasan dan restu yang tulus.

Di hari itu, di ruang kecil KUA Jatilawang, sebuah kisah besar dimulai. Kisah tentang dua insan yang berani menyatukan langkah, menapaki masa depan bersama, dan percaya bahwa dalam setiap doa yang mereka panjatkan, Tuhan akan selalu menjaga cinta yang telah mereka ikrarkan.