Isi Kajian Dhuha di Lapas Purwokerto, Penyuluh KUA Baturraden Ajak Warga Binaan Jadikan Syukur sebagai Kunci Taubat
Oleh KUA baturraden
Purwokerto — Dalam rangka memperkuat pembinaan spiritual bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP), Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Baturraden, Fathurrochman, memberikan tausiyah serta motivasi kehidupan pada kegiatan Kajian Dhuha di Masjid At Taubah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Purwokerto. Senin (13/07).
Kehadiran Fathurrochman merupakan penugasan langsung dari Ketua Pengurus Daerah Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (PD IPARI) Kabupaten Banyumas, Lubab Habiburrohman.
Dihubungi secara terpisah, Lubab Habiburrohman menegaskan bahwa seorang penyuluh agama harus mampu membaca situasi dan merancang dakwah yang menyentuh ranah psikologis serta kebutuhan realitas para jamaahnya.
"Kami selalu menekankan kepada para penyuluh, khususnya yang bertugas di lapas, agar materi yang disampaikan harus relevan dengan kondisi warga binaan. Materinya dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami, tidak menghakimi, dan senantiasa disertai dengan motivasi kehidupan agar mampu menumbuhkan kembali optimisme serta harapan baru bagi mereka," tegas Lubab.
Kegiatan rutin yang diawali dengan pembacaan Asmaul Husna tersebut berlangsung khidmat dan penuh kehangatan. Sebagai pengalaman pertamanya mengisi kajian di Lapas Kelas IIA Purwokerto, Fathur mengawali sesi dengan pendekatan komunikatif. Ia membuka ceramah dengan perkenalan dan menyapa kondisi para jamaah guna mencairkan suasana serta membangun kedekatan emosional sebelum memasuki materi pokok.
Dalam paparan ilmiahnya, Fathur mengutip pandangan Imam Al-Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin mengenai tiga klasifikasi dosa manusia beserta solusi amaliyah untuk meleburkannya:
-
Dosa meninggalkan kewajiban kepada Allah SWT, yang diselesaikan dengan mengqadha (mengganti) kewajiban yang tertinggal disertai azam untuk tidak mengulanginya.
-
Dosa melanggar larangan Allah SWT, yang dihapuskan melalui perbanyakan istighfar, penyesalan mendalam, dan taubat nasuha.
-
Dosa antar-sesama manusia (haqqul adami), yang menuntut permohonan maaf dan penyelesaian hak dengan pihak yang dirugikan, diiringi amaliyah kebaikan sebagai penutup jejak keburukan.
Di akhir kajian, Fathur memberikan penekanan mendalam mengenai pentingnya rasa syukur di dalam proses bertaubat. Ia mengingatkan agar para warga binaan tidak terjebak dalam rasa bersalah dan penyesalan masa lalu yang berlarut-larut hingga mematikan harapan hidup.
"Menyesal dan merasa bersalah memang dianjurkan sebagai syarat sahnya taubat. Namun, kita jangan sampai tenggelam di dalamnya. Kita harus mulai melihat, memikirkan, dan mensyukuri kebaikan-kebaikan yang telah Allah anugerahkan kepada kita hari ini," ujar Fathur di hadapan puluhan jamaah.
Ia mencontohkan berbagai nikmat dan pencapaian spiritual di lingkungan lapas yang patut disyukuri, seperti keringanan langkah untuk mendirikan shalat lima waktu tanpa beban, kelancaran membaca Al-Qur'an, hingga hati yang tergerak untuk duduk di majelis ilmu. Mensyukuri kebaikan-kebaikan tersebut, lanjutnya, merupakan bentuk nyata dari pola pikir positif (positive thinking) yang akan menuntun warga binaan menuju kehidupan yang lebih bermartabat dan penuh keberkahan. (Fth)
