KUA Jatilawang Teguhkan Spirit Pelayanan yang Berlandaskan Zikir dan Keikhlasan
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Keheningan pagi setiap hari Jum'at di Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang menghadirkan pemandangan yang menyejukkan hati. Sebelum aktivitas pelayanan kepada masyarakat dimulai, Kepala KUA Jatilawang bersama para Penyuluh Agama, Penghulu, dan seluruh staf berkumpul dalam satu majelis sederhana untuk melaksanakan amalan rutin pembacaan Asmaul Husna dengan penuh kekhusyukan dan khidmat. Tradisi spiritual ini menjadi ikhtiar bersama dalam memohon keberkahan, kekuatan, serta bimbingan Allah SWT agar setiap amanah pelayanan dapat dijalankan dengan tulus dan penuh tanggung jawab. Jumat (10/07)
Kegiatan yang dilaksanakan secara istiqamah setiap Jum'at pagi tersebut diawali dengan suasana hening yang sarat makna. Satu demi satu nama-nama Allah Yang Maha Indah dilantunkan dengan suara yang lembut namun menghunjam ke relung jiwa. Di tengah lantunan dzikir itu, seakan seluruh kesibukan dunia berhenti sejenak, memberi ruang bagi hati untuk kembali mengingat Sang Pencipta sebelum melayani sesama manusia.
Kepala KUA Jatilawang menyampaikan bahwa pembacaan Asmaul Husna bukan sekadar rutinitas, melainkan ikhtiar membangun karakter aparatur yang berintegritas, berakhlak mulia, dan memiliki kepekaan spiritual dalam menjalankan tugas. Nilai-nilai yang terkandung dalam setiap Asmaul Husna diharapkan menjadi cermin perilaku seluruh pegawai, sehingga pelayanan yang diberikan tidak hanya cepat dan profesional, tetapi juga menghadirkan keramahan, kesabaran, serta kasih sayang kepada masyarakat.
Bagi keluarga besar KUA Jatilawang, pelayanan publik sejatinya bukan hanya urusan administrasi, melainkan juga bentuk ibadah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Karena itulah, setiap doa yang dipanjatkan pada pagi Jum'at menjadi bekal batin agar setiap senyum yang diberikan kepada masyarakat lahir dari hati yang bersih, setiap keputusan diambil dengan penuh keadilan, dan setiap langkah senantiasa berada dalam ridha-Nya.
Suasana khidmat yang tercipta pada setiap pembacaan Asmaul Husna juga menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah institusi tidak hanya dibangun oleh kecanggihan sistem ataupun kelengkapan sarana, melainkan oleh hati-hati yang selalu hidup bersama dzikir. Dari ruangan sederhana itu tumbuh semangat kebersamaan, saling menguatkan, serta kesadaran bahwa pelayanan terbaik berawal dari jiwa yang dekat kepada Allah.
Melalui amalan rutin tersebut, KUA Jatilawang terus meneguhkan komitmennya untuk menghadirkan pelayanan publik yang profesional sekaligus humanis. Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan tangan yang bekerja, tetapi juga hati yang peduli. Dan ketika lantunan Asmaul Husna menutup doa di setiap Jum'at pagi, harapan pun kembali dipanjatkan—semoga setiap langkah pengabdian menjadi cahaya yang menerangi kehidupan banyak orang, menjadi amal jariyah yang tak pernah terputus, serta menjadi saksi bahwa melayani masyarakat adalah salah satu jalan paling indah untuk menggapai ridha Allah SWT.
