HUT RI #81

Mengawali Langkah dengan Doa, Menyapa Alam dengan Iman

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas – Keceriaan terpancar dari wajah para santri TPQ Miftahul Huda, Desa Adisara, saat bersiap mengikuti kegiatan Tadabbur Alam. Sebelum perjalanan dimulai, Dwi Astuti, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, memberikan pengarahan dan pembinaan kepada seluruh santri agar kegiatan tersebut tidak hanya menjadi perjalanan menikmati keindahan alam, tetapi juga menjadi sarana memperkuat keimanan, akhlak, dan rasa syukur kepada Allah SWT. Rabu (08/07)

Dalam arahannya, Dwi Astuti mengajak para santri untuk menjaga adab selama perjalanan, menghormati para pembimbing, saling membantu sesama teman, serta senantiasa menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari implementasi ajaran Islam. Ia juga mengingatkan agar setiap langkah yang diayunkan dimulai dengan doa, dipenuhi rasa syukur, dan dijadikan kesempatan untuk menyaksikan kebesaran ciptaan Allah yang terbentang di alam semesta.

Menurutnya, tadabbur alam bukan sekadar rekreasi, melainkan media pembelajaran yang mengajarkan anak-anak membaca tanda-tanda kebesaran Allah melalui pepohonan yang tumbuh, langit yang membentang, air yang mengalir, serta kehidupan yang saling menopang. Dengan demikian, para santri diharapkan tumbuh menjadi generasi yang mencintai Al-Qur'an, menjaga lingkungan, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Suasana pengarahan berlangsung hangat dan penuh semangat. Para santri mendengarkan setiap nasihat dengan antusias, sementara para pendamping merasa bersyukur melihat anak-anak menerima pembekalan bukan hanya tentang keselamatan selama perjalanan, tetapi juga tentang nilai-nilai keislaman yang akan menjadi bekal sepanjang kehidupan mereka. Doa bersama yang dipanjatkan sebelum keberangkatan menambah kekhidmatan suasana dan menjadi penyerahan diri kepada Allah agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar, aman, dan penuh keberkahan.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk nyata peran Penyuluh Agama KUA Jatilawang dalam membina generasi muda melalui pendekatan yang edukatif dan menyenangkan. Pembelajaran agama tidak hanya dilakukan di dalam ruang kelas atau majelis taklim, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang mengajak anak-anak mengenali kebesaran Allah dari setiap ciptaan-Nya. Dengan cara inilah nilai-nilai keimanan ditanamkan secara alami, menyentuh akal sekaligus hati.

Di balik tawa riang anak-anak yang bersiap melangkah, tersimpan harapan besar tentang masa depan bangsa. Mereka bukan sekadar rombongan santri yang akan menikmati indahnya alam, melainkan tunas-tunas harapan yang sedang belajar membaca ayat-ayat Allah yang terhampar di bumi. Ketika langkah kecil mereka diawali dengan doa, dihiasi adab, dan dipenuhi rasa syukur, perjalanan itu bukan hanya mengantarkan mereka menuju keindahan alam, tetapi juga mendekatkan hati kepada Sang Pencipta. Sebab generasi yang mengenal Tuhannya sejak dini akan tumbuh menjadi pribadi yang lembut akhlaknya, bijaksana dalam bertindak, dan kelak menjadi cahaya yang menerangi keluarga, masyarakat, agama, serta negeri yang mereka cintai.