Menjaga Cinta Meski Terpisah Jarak
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Jarak dapat memisahkan langkah, tetapi tidak seharusnya memisahkan hati. Di era ketika pekerjaan, pendidikan, dan tuntutan kehidupan sering mengharuskan pasangan hidup berada di tempat yang berbeda, komunikasi menjadi jembatan yang menjaga cinta tetap bertumbuh. Berangkat dari semangat itulah, Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, Muhammad Taubah, memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada pasangan calon pengantin Hamdan Muafik dan Tania Afi Sunani, warga Desa Bantar. Selasa (07/07)
Kegiatan bimbingan tersebut mengangkat tema "Membangun Kualitas Komunikasi dalam Menjalani Hubungan Jarak Jauh (Long Distance Relationship/LDR)", sebagai bekal penting bagi calon pasangan dalam menghadapi dinamika kehidupan rumah tangga di masa depan.
Dalam penyampaiannya, Muhammad Taubah menegaskan bahwa keharmonisan keluarga tidak selalu ditentukan oleh kedekatan fisik. Justru ketika jarak memisahkan, komunikasi yang jujur, terbuka, dan penuh kepercayaan menjadi fondasi utama yang menjaga kokohnya ikatan suami istri.
"Hubungan jarak jauh bukanlah tentang seberapa jauh seseorang berada, melainkan seberapa dekat hati saling menjaga kepercayaan. Kata-kata yang baik, perhatian yang tulus, dan doa yang tidak pernah putus akan menjadi penghubung ketika ruang dan waktu menciptakan jarak," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pasangan suami istri perlu membiasakan diri membangun komunikasi yang sehat sejak sebelum menikah. Saling mendengarkan, menghindari prasangka, menyelesaikan perbedaan dengan kepala dingin, serta meluangkan waktu untuk saling berbagi cerita merupakan bagian penting dalam menjaga keutuhan rumah tangga, terutama apabila suatu saat harus menjalani kehidupan secara berjauhan karena tuntutan pekerjaan atau pengabdian.
Hamdan Muafik dan Tania Afi Sunani mengikuti setiap materi dengan penuh perhatian. Mereka diajak memahami bahwa cinta bukan hanya diukur dari seringnya bertemu, tetapi juga dari kesetiaan menjaga komitmen, kemampuan mengendalikan emosi, serta kesungguhan untuk saling menguatkan dalam setiap keadaan.
Suasana bimbingan berlangsung hangat dan komunikatif. Diskusi yang terjalin tidak hanya membahas teori tentang kehidupan rumah tangga, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam mengenai arti kepercayaan, kesabaran, dan pengorbanan sebagai pilar utama dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Bagi KUA Jatilawang, Bimbingan Perkawinan merupakan ikhtiar nyata dalam mempersiapkan calon pengantin agar tidak hanya siap melaksanakan akad nikah, tetapi juga siap menghadapi realitas kehidupan setelahnya. Pembekalan sejak dini diharapkan mampu membentuk pasangan yang tangguh menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman dan kebersamaan.
Di penghujung kegiatan, doa dipanjatkan agar Hamdan Muafik dan Tania Afi Sunani senantiasa diberikan kekuatan untuk menjaga cinta yang telah dipertemukan oleh Allah SWT. Semoga setiap percakapan yang mereka bangun menjadi penawar rindu, setiap doa yang mereka panjatkan menjadi penguat langkah, dan setiap ujian yang datang justru semakin mendekatkan hati mereka kepada Sang Pencipta.
Sebab sejatinya, rumah tangga yang bahagia tidak selalu ditandai oleh dua insan yang setiap hari saling berdekatan. Kebahagiaan tumbuh ketika dua hati tetap saling percaya, saling mendoakan, dan saling menjaga, meski dipisahkan oleh jarak yang panjang. Dari ruang sederhana Bimbingan Perkawinan di KUA Jatilawang, terpatri sebuah harapan mulia: semoga cinta yang dibangun dengan iman, dipelihara dengan komunikasi yang berkualitas, dan disirami dengan doa akan tetap mekar sepanjang perjalanan kehidupan, hingga kelak dipertemukan kembali dalam keabadian kasih sayang yang diridai Allah SWT.
