Pendaftaran Pernikahan Secara Online Jadi Gerbang Awal Bagi Catin

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas – Di tengah arus zaman yang kian bergerak ke ranah digital, sebuah pemandangan hangat tetap tumbuh di ruang pelayanan Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang. Paryanto, staf KUA Jatilawang, dengan penuh kesabaran dan ketulusan, mendampingi calon pengantin dalam proses pendaftaran pernikahan secara online—sebuah langkah kecil yang menjadi gerbang awal bagi perjalanan besar dua insan. Kamis (23/04)

Di hadapan layar komputer yang memancarkan cahaya lembut, sepasang calon pengantin tampak duduk dengan harap yang tak tersembunyi. Jari-jari mereka sesekali ragu, menatap beragam kolom isian yang harus dilengkapi. Namun di samping mereka, Paryanto hadir sebagai penuntun—bukan hanya dalam urusan teknis, tetapi juga dalam meredakan kegugupan yang kerap menyertai awal perjalanan baru.

Dengan bahasa yang sederhana dan sikap yang menenangkan, ia menjelaskan setiap tahapan pendaftaran: mulai dari pengisian data diri, unggah dokumen, hingga memastikan semua informasi tersimpan dengan benar dalam sistem. Tak ada kesan terburu-buru, tak ada pula jarak antara petugas dan masyarakat. Yang ada hanyalah kesungguhan untuk memastikan bahwa setiap langkah dijalani dengan tepat dan tanpa kekeliruan.

“Pelan-pelan saja, yang penting benar,” ucap Paryanto lembut, seolah menegaskan bahwa dalam hal sebesar pernikahan, ketelitian adalah bentuk tanggung jawab.

Di tengah kecanggihan teknologi, kehadiran Paryanto menjadi pengingat bahwa sentuhan manusia tak pernah tergantikan. Ia tidak sekadar membantu mengoperasikan sistem, tetapi juga menjaga agar proses yang serba digital tetap terasa hangat dan bermakna. Setiap klik yang dilakukan bukan sekadar input data, melainkan bagian dari ikhtiar menuju ikatan yang sakral.

Senyum perlahan merekah di wajah calon pengantin ketika proses pendaftaran itu berhasil diselesaikan. Di balik layar yang kini menampilkan data yang telah tersimpan, terselip kebahagiaan yang sederhana namun mendalam—bahwa satu langkah menuju hari yang dinanti telah berhasil dilewati.

Peristiwa ini menjadi potret nyata transformasi pelayanan publik yang adaptif tanpa kehilangan sisi kemanusiaan. Di KUA Jatilawang, digitalisasi bukanlah sekadar modernisasi sistem, melainkan jembatan yang mempermudah masyarakat, dengan tetap mengedepankan empati dan ketulusan.

Paryanto, dalam kesehariannya yang mungkin tampak biasa, sesungguhnya tengah menjaga sesuatu yang luar biasa: memastikan setiap pernikahan dimulai dengan tertib, sah, dan penuh kesiapan. Ia adalah saksi sunyi dari banyak kisah cinta yang mulai dituliskan—bukan dengan tinta di kertas, melainkan dengan data di layar, namun tetap berdenyut dengan rasa yang sama. Di ruang pelayanan yang sederhana itu, janji suci tak hanya dipersiapkan—tetapi juga dirawat sejak awal, dengan kesabaran, ketelitian, dan hati yang tulus.