Penyuluh KUA Ajibarang yang Tak Pernah Menutup Pintu Dakwah Meski Tanggal Merah
Oleh HUMAS
Banyumas – "Dakwah tidak butuh waktu luang, tapi butuh waktu yang diperjuangkan." Kalimat ini menjadi napas bagi Penyuluh Agama Islam KUA Ajibarang dalam menebar kesejukan iman di tengah masyarakat. Meski kalender menunjukkan angka merah, api semangat bimbingan masyarakat tetap menyala terang di Desa Pancasan. Kamis (16/01/26)
Di saat kebanyakan orang menikmati momen libur Isra Mi’raj bersama keluarga, rutinitas Majelis Taklim Al-Islah tetap berdiri tegak demi memenuhi hajat spiritual jamaah.
Pertemuan yang biasanya mengisi kesunyian malam Minggu, kali ini digeser ke siang hari untuk mengakomodasi hajat shohibul bait yang ingin mendoakan leluhur dalam balutan peringatan haul atau mendhak. Sosok di balik keteguhan majelis ini adalah Ustadz Ahmad Shoim, yang telah mewakafkan dirinya membimbing jamaah Al-Islah selama lebih dari satu dekade.
“Bagi kami di KUA Ajibarang, setiap pintu rumah warga adalah mimbar dakwah. Tanggal merah hanyalah warna di kertas, namun hidayah dan doa tak boleh berhenti mengalir,” ungkap Ustadz Shoim dengan rendah hati.
Dalam penyampaian tausiyahnya, Ustadz Shoim membedah materi mendalam yang bersumber dari Hadits Nabi Muhammad SAW mengenai dua poin krusial bagi kehidupan umat. Beliau menjelaskan tentang tiga hal penyelamat umat, yakni rahasia amal yang memiliki kekuatan untuk melindungi manusia baik di kehidupan dunia maupun di akhirat kelak. Di sisi lain, beliau juga memaparkan tiga hal perusak manusia sebagai bentuk bekal peringatan bagi para jamaah agar senantiasa waspada dalam menghadapi berbagai tantangan dunia modern yang kini semakin kompleks.
Materi yang disampaikan dengan bahasa renyah namun menghujam hati ini membuat para jamaah terdiam dalam renungan.
Kegiatan berlangsung dalam suasana syahdu dan penuh kekeluargaan. Dedikasi Ustadz Shoim membuktikan bahwa Penyuluh Agama adalah garda terdepan dalam menjaga moral bangsa, di mana kepuasan mereka bukan terletak pada materi, melainkan pada pemahaman agama jamaah yang kian membaik.
Acara diakhiri dengan lantunan doa bersama untuk ahli kubur dan keselamatan umat. Sebuah pemandangan di sudut Desa Pancasan yang menyadarkan kita bahwa ketulusan dakwah tidak mengenal lelah, apalagi sekadar terhalang tanggal merah.
