HUT RI #81

Penyuluh KUA Jatilawang Jadi Tim Penilai Lomba Mewarnai FASI

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Di balik selembar kertas putih yang perlahan dipenuhi aneka warna, tersimpan mimpi-mimpi kecil yang sedang bertumbuh. Tangan-tangan mungil para santri dengan penuh kesungguhan menggoreskan krayon, bukan sekadar menciptakan gambar yang indah, tetapi juga melukiskan ketulusan hati, keberanian, dan harapan. Dalam suasana penuh keceriaan itulah, Ustadzah Dwi Astuti, Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, dipercaya menjadi Tim Penilai Cabang Lomba Mewarnai pada Seleksi Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) Tingkat Kecamatan Jatilawang. Senin (29/06)

Amanah tersebut dijalankan dengan penuh tanggung jawab, objektivitas, dan keikhlasan. Dengan ketelitian seorang pendidik dan kelembutan hati seorang pembina generasi, Ustadzah Dwi Astuti menilai setiap karya berdasarkan kreativitas, kerapian, ketepatan warna, serta kemampuan peserta dalam menuangkan imajinasi mereka ke dalam gambar yang disediakan.

Di ruang perlombaan, suasana begitu menghangatkan hati. Puluhan pasang mata kecil tampak begitu fokus menyelesaikan karya terbaiknya. Sesekali senyum polos merekah, seolah menjadi pengingat bahwa dunia anak adalah dunia yang dipenuhi kejujuran, kesederhanaan, dan impian yang masih bersih dari kepentingan.

Bagi Ustadzah Dwi Astuti, setiap gambar yang dihasilkan anak-anak memiliki cerita yang berbeda. Tidak ada karya yang sekadar dipenuhi warna, melainkan pancaran karakter, ketekunan, serta hasil pembinaan yang selama ini diberikan oleh para ustaz, ustazah, dan orang tua. Karena itu, proses penilaian dilakukan secara cermat dan profesional, demi memberikan penghargaan yang adil kepada setiap peserta.

Festival Anak Sholeh Indonesia bukan hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang pembinaan yang menumbuhkan rasa percaya diri, kreativitas, sportivitas, dan kecintaan anak-anak terhadap nilai-nilai Islam. Melalui kegiatan sederhana seperti lomba mewarnai, mereka belajar bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh memiliki nilai ibadah dan akan menjadi bekal dalam perjalanan hidupnya.

Keikutsertaan Penyuluh Agama KUA Jatilawang sebagai tim penilai menjadi wujud nyata komitmen KUA dalam mendukung pembinaan karakter generasi muda sejak usia dini. Kehadiran mereka tidak hanya memastikan jalannya perlombaan berlangsung objektif, tetapi juga memberikan motivasi kepada anak-anak agar terus mencintai ilmu, seni, dan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

Di balik lembaran gambar yang sederhana, sesungguhnya sedang terlukis masa depan bangsa. Warna-warna cerah yang dipilih oleh anak-anak hari ini adalah simbol harapan, bahwa mereka kelak akan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia, berjiwa lembut, dan mampu memberi warna kebaikan bagi masyarakat.

Sore itu, ketika perlombaan usai, mungkin sebagian karya akan menjadi juara, sementara yang lain belum memperoleh penghargaan. Namun sesungguhnya, tidak ada anak yang pulang membawa kekalahan. Mereka pulang dengan pengalaman, keberanian, dan kenangan indah yang akan tersimpan sepanjang hayat. Sebab kemenangan sejati bukanlah tentang piala yang digenggam, melainkan tentang semangat yang terus menyala untuk belajar dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Semoga dedikasi Ustadzah Dwi Astuti dalam mengemban amanah sebagai Tim Penilai FASI menjadi inspirasi bagi seluruh pendidik dan masyarakat untuk terus menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada generasi penerus. Sebab dari tangan-tangan yang tulus membimbing anak-anak hari ini, akan lahir masa depan Indonesia yang dipenuhi cahaya ilmu, akhlak, dan kasih sayang.