Rakor KUA Jatilawang Untuk Kuatkan Langkah di Awal Hari

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Pagi yang masih berselimut ketenangan di awal pekan kedua bulan ini menjadi saksi berkumpulnya para pengabdi umat di Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang. Dalam suasana yang hangat namun penuh kesungguhan, Rapat Koordinasi (Rakor) hari Senin digelar sebagai ruang bersama untuk menata langkah, mengevaluasi perjalanan, sekaligus menyiapkan arah pengabdian ke depan. Senin (13/04)

Rakor tersebut dipimpin langsung oleh Kepala KUA Jatilawang, Iskandar Zulkarnain, dan dihadiri oleh seluruh Penyuluh Agama, Penghulu, serta staf KUA Jatilawang. Kehadiran mereka bukan sekadar memenuhi undangan rapat, melainkan membawa serta semangat untuk terus memperbaiki diri demi pelayanan yang lebih bermakna bagi masyarakat.

Dengan pembawaan yang tenang dan penuh kebijaksanaan, Iskandar Zulkarnain membuka rapat dengan mengajak seluruh peserta untuk sejenak merenungi perjalanan kerja pada pekan sebelumnya. Setiap capaian diapresiasi, setiap kekurangan dibedah dengan hati yang lapang—bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk memperbaiki.

“Evaluasi bukanlah mencari siapa yang salah, tetapi menemukan apa yang bisa kita benahi bersama,” ungkapnya, lirih namun sarat makna. Kalimat itu menggema di ruang rapat, mengetuk kesadaran bahwa setiap tugas adalah amanah yang harus dijaga dengan sepenuh jiwa.

Satu per satu agenda dibahas dengan cermat. Dari pelayanan pencatatan nikah, bimbingan perkawinan, hingga kegiatan penyuluhan keagamaan—semuanya ditelaah dengan sudut pandang perbaikan berkelanjutan. Diskusi berlangsung hidup, namun tetap dalam bingkai kebersamaan dan saling menghargai.

Tak hanya evaluasi, Rakor ini juga menjadi titik tolak persiapan program kerja ke depan. Harapan-harapan dirangkai, rencana-rencana disusun, dan komitmen diperkuat. Di balik setiap gagasan, tersimpan keinginan tulus untuk menghadirkan pelayanan yang lebih dekat, lebih hangat, dan lebih menyentuh hati masyarakat.

Suasana haru pun tak terelakkan ketika beberapa peserta menyampaikan refleksi pribadi. Ada rasa lelah yang diakui, ada tantangan yang dihadapi, namun di atas semuanya, ada cinta yang tak pernah surut untuk terus mengabdi. Dalam kebersamaan itu, mereka saling menguatkan—seolah mengingatkan bahwa tidak ada perjuangan yang dijalani sendirian.

Rakor pagi itu pun ditutup dengan doa yang dipanjatkan dengan khusyuk. Di antara hening yang menyelimuti, terselip harapan agar setiap langkah yang akan ditempuh senantiasa diberi kemudahan dan keberkahan.

Di ruang sederhana itu, di antara lembar-lembar catatan dan suara-suara yang saling bertukar pikiran, terukir sebuah tekad yang tak kasat mata namun begitu kuat: untuk terus melayani dengan hati, mengabdi dengan tulus, dan menghadirkan cahaya bagi setiap jiwa yang membutuhkan.

Sebab bagi mereka, bekerja bukan sekadar kewajiban—melainkan panggilan jiwa yang akan terus hidup, selama keikhlasan tetap menjadi napas dalam setiap langkah pengabdian.