Suara Adzan yang Mengetuk Relung Jiwa
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Ada suara yang tidak hanya terdengar oleh telinga, tetapi juga mengetuk relung jiwa. Suara itu adalah adzan, panggilan suci yang sejak dahulu mengajak manusia meninggalkan kesibukan dunia untuk memenuhi undangan Sang Pencipta. Dalam suasana yang sarat nilai keislaman, Seleksi Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) Tingkat Kecamatan Jatilawang cabang Lomba Adzan dan Iqomah menjadi panggung lahirnya generasi muda yang siap menghidupkan syiar Islam dengan suara, adab, dan ketulusan. Senin (29/06)
Pada kegiatan tersebut, Ustadzah Muji Riyanti, Staf Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, mendapat amanah sebagai Tim Penilai, mengemban tanggung jawab mulia untuk menilai penampilan para peserta secara objektif, profesional, dan penuh kebijaksanaan.
Dengan mengedepankan integritas, beliau bersama tim penilai melakukan penilaian berdasarkan ketepatan lafaz, makharijul huruf, tajwid, keindahan suara, penguasaan irama, adab, serta penampilan peserta. Setiap nilai diberikan melalui pertimbangan yang cermat, agar hasil seleksi benar-benar mencerminkan kemampuan terbaik para calon muazin muda.
Namun bagi Ustadzah Muji Riyanti, setiap anak yang berdiri lantang mengumandangkan adzan telah menorehkan kemenangan yang jauh lebih besar daripada sekadar meraih gelar juara. Mereka sedang belajar menjadi pewaris syiar Rasulullah, menanamkan keberanian untuk menyeru manusia kepada kebaikan sejak usia belia.
"Adzan bukan sekadar lantunan suara yang merdu. Di dalamnya terdapat kemuliaan dakwah, ketulusan pengabdian, dan panggilan menuju kebahagiaan dunia serta akhirat. Anak-anak yang berani mengumandangkannya hari ini adalah harapan bagi masa depan umat," tutur Ustadzah Muji Riyanti.
Suasana perlombaan berlangsung khidmat. Satu per satu peserta melantunkan adzan dengan penuh penghayatan, menghadirkan gema yang memenuhi ruangan dengan nuansa spiritual yang menyejukkan. Meski suara mereka masih belia, ketulusan yang terpancar dari setiap lafaz seolah mengingatkan bahwa keagungan Islam akan selalu terjaga melalui generasi yang dididik dengan cinta, ilmu, dan akhlak.
Lomba Adzan dan Iqomah dalam Festival Anak Sholeh Indonesia tidak hanya bertujuan mencari peserta terbaik, tetapi juga menjadi media pembinaan karakter, melatih keberanian tampil di hadapan masyarakat, memperbaiki bacaan, serta menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap syiar Islam. Dari kegiatan seperti inilah bibit-bibit muazin masa depan mulai tumbuh, membawa harapan agar suara adzan senantiasa menggema dari masjid-masjid di seluruh penjuru negeri.
Kepercayaan yang diberikan kepada Ustadzah Muji Riyanti sebagai Tim Penilai menjadi cerminan komitmen KUA Jatilawang dalam mendukung pembinaan generasi Qurani yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kecintaan yang mendalam terhadap ibadah dan syiar Islam. Amanah tersebut dijalankan dengan penuh keikhlasan sebagai bagian dari pengabdian kepada agama, masyarakat, dan bangsa.
Pada akhirnya, hasil perlombaan hanyalah penanda perjalanan. Piala akan tersimpan di rak-rak penghargaan, sertifikat akan menghiasi bingkai kenangan. Namun suara adzan yang hari itu berkumandang dari lisan anak-anak akan terus hidup dalam doa-doa orang tua, dalam harapan para guru, dan dalam hati setiap orang yang mendengarnya.
Sebab, mungkin suatu hari nanti, ketika mereka telah dewasa dan berdiri di menara masjid memanggil umat menuju salat, tidak banyak yang mengingat nilai yang pernah mereka peroleh. Tetapi semua akan mengingat bahwa syiar Islam pernah tumbuh dari keberanian seorang anak, dipupuk oleh para pembimbing yang ikhlas, dan dijaga keadilannya oleh tangan-tangan amanah yang menilai bukan hanya dengan mata, melainkan juga dengan hati.
