Syiar Al-Quran di Kedung Santen: Lantunkan Asmaul Husna Hingga Kupas Tuntas Tajwid

Oleh KUA SUMPIUH
SHARE

Sumpiuh – Suasana khidmat menyelimuti Mushola Kedung Santen, Desa Selandaka, setiap harinya pasca-kumandang azan Maghrib. Puluhan santri tampak antusias mengikuti kegiatan pengajian rutin Majelis Taklim (MT) An-Najah. Di bawah asuhan Penyuluh Agama Islam, Laeli Najihah, kegiatan ini menjadi oase pendidikan Al-Qur’an bagi masyarakat setempat. Kamis (16/04)

Rangkaian kegiatan dimulai dengan sholat Maghrib berjamaah, yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Asmaul Husna secara bersama-sama. Gema nama-nama baik Allah ini tidak hanya berfungsi sebagai zikir, tetapi juga untuk menenangkan hati sebelum memasuki sesi inti pembelajaran.

MT An-Najah menerapkan metode sorogan, sebuah sistem pembelajaran tradisional di mana santri menghadap guru satu per satu. Hal ini dilakukan agar kualitas bacaan setiap santri dapat dipantau secara mendetail sesuai tingkatannya:

  • Tingkat Iqra’: Fokus pada pengenalan huruf hijaiyah dan kelancaran mengeja bagi pemula.

  • Tingkat Al-Qur’an: Fokus pada kefasihan (fashonah) dan irama bacaan bagi mereka yang sudah lancar.

Ada yang spesial dalam rutinitas kali ini. Laeli Najihah tidak hanya menyimak bacaan, tetapi juga menyisipkan materi Tajwid, khususnya pembahasan mengenai Mad Thobi’i. Para santri diajarkan cara memanjangkan bacaan dengan benar sesuai kaidah, sehingga tidak hanya sekadar membaca, tetapi juga memahami hukum-hukum tajwid secara aplikatif.

"Pendidikan Al-Qur'an harus dilakukan secara telaten. Melalui metode sorogan, kita bisa memastikan setiap panjang-pendeknya bacaan, terutama Mad Thobi’i, sudah tepat sesuai makhraj-nya," ujar Ibu Laeli Najihah di sela-sela kegiatannya.

Kegiatan rutin ini diharapkan dapat mencetak generasi yang tidak hanya buta aksara Al-Qur’an, namun juga memiliki akhlak mulia yang berlandaskan nilai-nilai islami sejak dini.