Tertib Administrasi Adalah Pondasi untuk Jaga Keabsahan dan Keberkahan Sebuah Perkawinan

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas – Pagi itu, cahaya matahari menyelinap lembut melalui jendela Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, seolah ikut menyaksikan percakapan sederhana yang sarat makna. Di balik meja pelayanan, dua sosok aparatur negara, Paryanto dan Muji Riyanti, dengan penuh kesabaran menerima konsultasi dari warga yang datang membawa harap: memastikan kelengkapan administrasi menuju pernikahan. Kamis (23/04)

Tak ada kemewahan dalam ruangan itu. Hanya berkas-berkas, kursi sederhana, dan wajah-wajah yang dipenuhi harap. Namun dari tempat itulah, masa depan dua insan kerap mulai ditata—bukan hanya dengan doa, tetapi juga dengan kepastian hukum dan kesiapan administrasi yang tertib.

Dengan tutur yang santun, Paryanto menjelaskan satu per satu dokumen yang harus dipenuhi: mulai dari identitas diri, surat pengantar dari desa, hingga berkas-berkas pendukung lainnya. Ia tidak sekadar menyebutkan daftar persyaratan, melainkan menguraikannya dengan bahasa yang mudah dipahami, seolah memastikan tidak ada kegelisahan yang tertinggal di benak warga.

Di sampingnya, Muji Riyanti melengkapi penjelasan dengan ketelitian yang menenangkan. Ia memeriksa berkas yang telah dibawa, menunjukkan bagian yang perlu dilengkapi, serta memberi arahan dengan penuh empati. Baginya, setiap pertanyaan adalah amanah, dan setiap kebingungan warga adalah tanggung jawab untuk dijawab dengan hati.

“Pernikahan itu ibadah panjang, maka langkah awalnya harus dipastikan benar,” tutur Muji Riyanti lirih, seakan menanamkan kesadaran bahwa tertib administrasi bukan sekadar formalitas, melainkan pondasi yang menjaga keabsahan dan keberkahan sebuah ikatan.

Suasana yang awalnya canggung perlahan mencair. Warga yang datang dengan keraguan, pulang dengan kepastian. Yang semula bingung, beranjak dengan senyum yang mulai merekah—membawa harapan yang kini lebih terarah.

Di tengah kesibukan pelayanan publik yang seringkali dipandang kaku dan formal, Paryanto dan Muji Riyanti justru menghadirkan wajah lain: pelayanan yang hangat, humanis, dan penuh kepedulian. Mereka tidak hanya mengurus berkas, tetapi juga merawat harapan—agar setiap pernikahan yang terdaftar bukan sekadar sah secara hukum, tetapi juga siap dijalani dengan tanggung jawab.

Kisah kecil di ruang pelayanan itu mungkin tak tercatat dalam sejarah besar. Namun bagi mereka yang mengalaminya, itulah awal dari perjalanan hidup yang sakral—yang dijaga sejak langkah pertama oleh tangan-tangan yang tulus. Dan di KUA Jatilawang, di antara tumpukan dokumen dan alur prosedur, selalu ada ruang bagi kemanusiaan untuk tumbuh. Sebab di sana, setiap pelayanan bukan hanya tugas, melainkan panggilan hati.