Meniti Jalan Kehidupan: Seni Bertakbir Saat Mendaki dan Bertasbih Saat Turun
Oleh: Siti Nilawati
Hidup adalah sebuah perjalanan panjang. Ibarat seorang musafir yang tengah mendaki bukit dan menuruni lembah, hari-hari yang kita lalui tidak pernah selamanya datar. Ada kalanya kita dihadapkan pada tanjakan terjal yang menguras tenaga, menuntut kesabaran ekstra, dan membuat napas terasa berat. Namun, ada kalanya pula kita berada di jalur menurun yang melonggarkan ketegangan, menghadirkan kelapangan, dan membuat langkah terasa begitu ringan.
Dalam indahnya tuntunan Islam, setiap dinamika perjalanan ini tidak dibiarkan berlalu begitu saja. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengajarkan sebuah sunnah yang sarat akan makna filosofis dan spiritual yang mendalam, yaitu memperbanyak takbir saat mendaki dan tasbih saat menurun.
Makna Spiritual di Balik Tanjakan dan Turunan
Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhu menceritakan kebiasaan para sahabat dalam sebuah perjalanan:
"Dulu kami jika berjalan naik, kami bertakbir. Dan jika kami berjalan turun, kami bertasbih." (HR. Al-Bukhari)
Praktik sederhana ini ternyata menyimpan rahasia jiwa yang luar biasa bagi seorang hamba yang tengah mengarungi ujian dunia:
Bertakbir Saat Naik (Mendaki)
Ketika menghadapi jalan yang menanjak, secara fisik kita merasa kecil dan lemah di hadapan medan yang tinggi. Saat itulah lisan dan hati mengagungkan Allah dengan kalimat "Allahu Akbar" (Allah Maha Besar). Pesan spiritualnya adalah: sebesar apapun tantangan, cita-cita, atau beban berat yang sedang engkau daki saat ini, Allah jauh lebih besar. Tanjakan kehidupan tidak ada apa-apanya di hadapan kebesaran-Nya. Kalimat ini menyuntikkan keberanian dan membuang jauh rasa rendah diri serta putus asa.
Bertasbih Saat Turun (Menurun)
Sebaliknya, ketika jalan mulai menurun, langkah kaki menjadi lebih mudah dan kecepatan bertambah. Di sinilah potensi lalai, ujub (bangga diri), atau merasa semua kemudahan itu karena kemampuan diri sendiri seringkali muncul. Islam mengajarkan kita untuk mengucapkan "Subhanallah" (Maha Suci Allah). Pesan spiritualnya adalah: menjauhkan Allah dari segala sifat kekurangan, dan menyadari bahwa kemudahan, kelapangan, serta kesuksesan yang turun kepada kita murni karena rahmat dan penjagaan-Nya, bukan semata-mata karena kehebatan kita.
Cerminan dalam Perjalanan Hidup Kita
Mari kita renungkan, di fase manakah perjalanan hidup Anda saat ini?
* Jika Anda sedang berada di tanjakan hidup: Mungkin hari ini bisnis sedang diuji, amanah pekerjaan terasa sangat berat, atau kesabaran diuji dalam sebuah urusan keluarga. Ingatlah untuk selalu bertakbir. Sadarilah bahwa Allah sedang mengangkat derajat Anda melalui ujian tersebut. Serahkan segala beban kepada Zat Yang Maha Besar, dan teruslah melangkah dengan tegar.
* Jika Anda sedang berada di turunan hidup: Saat rezeki mengalir deras, kemudahan terbuka lebar, dan segala urusan terasa begitu mulia dipermudah, jangan lupa untuk bertasbih. Rendahkan hati, sucikan Allah dari segala kesombongan, dan syukurilah setiap nikmat tersebut agar ia senantiasa membawa berkah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an mengenai pentingnya mengingat-Nya dalam setiap keadaan:
"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.'" (QS. Ali 'Imran: 191)
Penutup
Perjalanan hidup di dunia ini bersifat sementara. Baik saat kita sedang bersusah payah menanjak maupun saat menikmati kemudahan di jalan menurun, tujuan akhirnya tetaplah satu: ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Jadikanlah setiap tarikan napas kita dihiasi dengan takbir saat menghadapi kesulitan, dan tasbih saat menikmati kemudahan. Dengan begitu, setiap langkah kaki kita bernilai ibadah, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, serta menenangkan hati dalam menjalani takdir-Nya.
