Ampunan Allah SWT Hidupkan Harapan di Lapas Pamijen

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas - Suasana pagi itu di aula pembinaan Lapas Pamijen Purwokerto terasa berbeda. Di balik pintu-pintu besi dan dinding tinggi yang selama ini identik dengan sunyi serta penyesalan, perlahan tumbuh kehangatan yang meneduhkan hati. Sejumlah warga binaan duduk bersila dengan wajah penuh perhatian, menyimak setiap nasihat yang disampaikan oleh Muhammad Taubah, Penyuluh Agama dari KUA Jatilawang. Rabu (13/05)

Dengan suara tenang dan penuh kasih, Muhammad Taubah memberikan Bimbingan Rohani (Bimroh) bertema “Allah SWT Maha Mengampuni Dosa Hamba-Nya yang Bersungguh-sungguh Bertaubat.” Tema itu sederhana, namun menjelma mata air harapan bagi jiwa-jiwa yang tengah berusaha menemukan kembali cahaya hidupnya.

Dalam tausiyahnya, ia mengajak para warga binaan untuk tidak tenggelam dalam keputusasaan. Menurutnya, sebesar apa pun kesalahan manusia, pintu ampunan Allah SWT tidak pernah tertutup bagi hamba yang datang dengan hati yang tulus dan taubat yang murni.

“Manusia boleh pernah jatuh dalam dosa, tetapi Allah tidak pernah lelah membuka pintu maaf-Nya. Selama napas masih berembus, kesempatan memperbaiki diri selalu ada,” tuturnya lembut.

Kalimat-kalimat itu mengalir perlahan, namun mampu mengetuk relung hati para peserta. Beberapa warga binaan tampak menundukkan kepala. Ada mata yang berkaca-kaca, ada pula yang diam memeluk harapan yang mungkin selama ini terasa jauh dari jangkauan.

Muhammad Taubah juga mengingatkan bahwa taubat sejati bukan sekadar ucapan di bibir, melainkan perubahan sikap dan kesungguhan untuk kembali menapaki jalan kebaikan. Ia mengajak para warga binaan agar menjadikan masa pembinaan sebagai ruang perenungan untuk menata masa depan yang lebih bermakna.

“Allah tidak melihat masa lalu kita semata, tetapi melihat kesungguhan hati kita hari ini,” ujarnya.

Di tengah keterbatasan ruang gerak dan waktu yang berjalan lambat di balik jeruji, bimbingan rohani tersebut menjadi embun penyejuk bagi jiwa-jiwa yang sedang dahaga akan ketenangan. Tidak sedikit warga binaan yang mengaku tersentuh dan merasa kembali memiliki harapan untuk memperbaiki hidup setelah bebas nanti.

Kegiatan Bimroh itu bukan hanya menghadirkan ceramah keagamaan, melainkan juga menghadirkan pelukan moral bagi mereka yang selama ini kerap dipandang sebelah mata. Di tempat yang sering dianggap penuh noda, ternyata masih tumbuh doa-doa panjang, air mata penyesalan, dan keinginan tulus untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik.

Melalui sentuhan dakwah yang humanis dan penuh kasih sayang, Muhammad Taubah menunjukkan bahwa tugas penyuluh agama bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menyalakan kembali cahaya harapan dalam hati manusia. Sebab terkadang, seseorang tidak membutuhkan banyak penghakiman, melainkan satu keyakinan bahwa dirinya masih layak mendapatkan ampunan dan kasih sayang Tuhan.

Di penghujung kegiatan, suasana aula terasa hening. Namun di balik keheningan itu, ada hati-hati yang perlahan bangkit dari luka dan penyesalan. Dari balik jeruji Lapas Pamijen, siang itu, secercah cahaya ampunan seolah turun menyapa mereka yang ingin pulang kepada Tuhan dengan hati yang baru.