HUT RI #81

Belajar Memahami di Setiap Keadaan

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
27 Mar 2026
11x dibaca
SHARE

Banyumas — Di Balai nikah KUA Jatilawang yang dipenuhi harap dan doa, dua hati yang akan segera dipersatukan duduk berdampingan, menyimak dengan penuh khidmat setiap kata yang disampaikan. oleh Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, yang dengan penuh ketulusan memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada pasangan calon pengantin, Dedy Suhendro dan Fela Astika. Bukan sekadar materi biasa, melainkan pesan kehidupan yang dalam: tentang pentingnya saling pengertian dalam berbagai kondisi. Jumat, (27/03)

Dengan tutur kata yang lembut namun sarat makna, ia mengajak keduanya memahami bahwa pernikahan bukan hanya tentang kebahagiaan yang tampak di permukaan, tetapi juga tentang bagaimana bertahan dalam badai, menguatkan saat lemah, dan tetap menggenggam erat ketika keadaan tak lagi mudah.

“Tidak semua hari akan cerah,” ujarnya pelan, seolah menenangkan gelombang yang mungkin akan datang di masa depan. “Namun, ketika suami dan istri saling memahami, bahkan dalam diam sekalipun, di situlah cinta menemukan maknanya yang paling dalam.”

Dedy dan Fela saling berpandangan. Di mata mereka, tersimpan harapan sekaligus kesadaran baru: bahwa cinta bukan sekadar rasa, melainkan komitmen untuk saling mengerti, bahkan ketika kata-kata tak lagi mampu menjelaskan.

Bimwin kali ini tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga ruang perenungan. Muhammad Taubah mengingatkan bahwa dalam perjalanan rumah tangga, perbedaan adalah keniscayaan. Namun, dari perbedaan itulah tumbuh kedewasaan, selama keduanya mau membuka hati untuk memahami, bukan sekadar menuntut dimengerti.

Ia juga menekankan bahwa pengertian bukan berarti selalu mengalah, melainkan kemampuan untuk melihat dari sudut pandang pasangan, merasakan apa yang dirasakan, dan hadir sepenuh hati dalam setiap keadaan—baik dalam tawa maupun luka.

Suasana pun menjadi haru ketika ia menutup sesi dengan pesan yang menggugah, “Cinta yang sejati bukan yang selalu membuat kita bahagia, tetapi yang membuat kita tetap bertahan, saling menggenggam, meski dunia sedang tidak baik-baik saja.”

Di akhir kegiatan, senyum Dedy dan Fela terlihat lebih dalam—bukan sekadar bahagia, tetapi penuh makna. Mereka pulang bukan hanya sebagai calon pengantin, tetapi sebagai dua jiwa yang sedang belajar menjadi tempat pulang satu sama lain.

Bimbingan itu mungkin singkat, namun jejaknya akan panjang—mengalir dalam setiap langkah kehidupan rumah tangga yang akan mereka arungi. Sebab pada akhirnya, pernikahan bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan tentang siapa yang mau lebih dulu memahami.