Buka BRUS di MAN 2 Banyumas, Kemenag Banyumas Tekankan Kualitas Pemimpin Demi Indonesia Emas 2045
Oleh Seksi Bimas
Banyumas - Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Ibnu Asaddudin, resmi membuka kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) Angkatan 14 dan 15 di MAN 2 Banyumas. Dalam sambutannya yang inspiratif, beliau mengutip kalimat ikonik dari Napoleon Bonaparte " If you build an army of 100 lions and their leader is a dog, in any fight, the lions will die like a dog. But if you build an army of 100 dogs and their leader is a lion, all dogs will fight like a lion." mengenai pentingnya kualitas kepemimpinan layaknya seekor singa yang mampu memimpin pasukan serigala menjadi petarung hebat. Beliau juga menegaskan bahwa setiap perbuatan manusia merupakan cerminan dari kebersihan hati dan jiwanya masing-masing. Selain memotivasi para siswa, Kepala Kantor Kemenag turut memaparkan materi krusial mengenai bahaya narkoba serta ancaman penularan HIV/AIDS di kalangan remaja. Melalui pembekalan ini, generasi muda diharapkan memiliki benteng keimanan dan karakter yang kuat agar terhindar dari pergaulan bebas yang merusak masa depan. Jumat (05/06)
Sejalan dengan itu H. Agus Setiawan, juga semakin gencar dalam menyuarakan. Penurunan angka pernikahan dini, mencegah terjadinya kasus stunting dan mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan unggul demi mewujudkan Indonesia emas 2045.
"Bagaimana kita bisa mewujudkan Indonesia Emas 2045 jika yang lahir adalah generasi yang pertumbuhan dan perkembangannya tidak optimal? Anak yang mengalami stunting pertumbuhannya akan terhambat, dan sulit berkembang secara fisik maupun intelektual meski diberi gizi yang cukup di kemudian hari. Padahal, generasi kalianlah yang kelak akan menjadi penerus dan pemimpin bangsa". Tambahnya
Sementara itu, Kepala MAN 2 Banyumas, Muhammad Siswanto, menjelaskan bahwa program BRUS ini bertujuan memberikan pengetahuan serta bekal persiapan pranikah yang matang sejak dini. Beliau menegaskan bahwa kegiatan ini sama sekali tidak bertujuan untuk mengajak para siswa melakukan pernikahan dini atau pernikahan massal. Edukasi tersebut justru menjadi insting pelindung bagi remaja agar terhindar dari perilaku menyimpang seperti hubungan sesama jenis yang kian marak. Berdasarkan data dari Kasi Bimas Islam, program ini terbukti sukses memangkas angka pernikahan dini di wilayah tersebut dari 480 pasang pada tahun 2025 menjadi sekitar 200 pasang. Pihak penyelenggara pun optimis dapat mencapai target zero kasus pernikahan dini pada periode tahun 2026 hingga 2027 mendatang.
Langkah preventif ini dirasa sangat mendesak mengingat pernikahan di bawah usia 19 tahun berpotensi besar melahirkan generasi baru yang mengalami stunting. Kondisi fisik anak yang terhambat akibat stunting tentu menjadi ancaman serius bagi misi besar bangsa dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Secara medis, kehamilan di bawah usia 20 tahun juga memiliki risiko tinggi yang membahayakan keselamatan ibu maupun janin. Oleh karena itu, para siswa diajak untuk lebih matang dalam merencanakan masa depan karena kehidupan pascapernikahan akan berjalan dalam waktu yang sangat lama. Demi menyukseskan visi tersebut, acara ini menghadirkan para narasumber ahli seperti Sokhidin, Amin Supangat, Faidus Saad, serta Atik Novita dari Dinas Kesehatan.
