Dukung Kearifan Islam Nusantara; Penyuluh Ikuti Sholat Jumat di Masjid Saka Tunggal

Oleh HUMAS
SHARE

Wangon — Penyuluh Agama Islam Fungsional Kantor Urusan Agama (KUA) Wangon, Muhammad Zainur Rakhman, bersama Penyuluh Agama P3K Sarifuddin, mengikuti sholat Jum'at di Masjid Saka Tunggal, Desa Cikakak, Kecamatan Wangon. Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian kearifan lokal Islam Nusantara yang masih lestari di masyarakat. Jumat (19/06)

Masjid Saka Tunggal yang konon merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia menjadi sentra komunitas jamaah Islam Aboge. Kehadiran para penyuluh agama ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendekatkan diri dengan tradisi keagamaan yang telah mengakar di tengah masyarakat.

Dalam pelaksanaan sholat Jum'at tersebut terdapat beberapa kekhasan yang menjadi ciri khas Masjid Saka Tunggal. Empat orang mu'adzin mengumandangkan adzan secara bersama-sama, menciptakan harmoni suara yang khidmat. Para khatib, imam, dan muadzin mengenakan jubah putih bersih serta iket kepala khas, mencerminkan identitas budaya Nusantara yang kuat.

Khutbah Jum'at disampaikan sepenuhnya dalam bahasa Arab, baik khutbah pertama maupun kedua. Seluruh rangkaian sholat sunnah qobliyah dan ba'diyah dilaksanakan secara berjamaah. Setelah sholat, jamaah melanjutkan dengan pembacaan Ratib Samman secara bersama, kemudian ditutup dengan salaman mutar (bersalaman keliling) sambil bersholawat bersama. Prosesi dari sebelum sholat dimulai jam 11.00 sampai selesai bersalaman jam 13.00.

Jamaah yang hadir pada hari itu mencapai lebih dari 40 orang di bawah pimpinan Kyai Sulam.

Muhammad Zainur Rakhman menyampaikan bahwa kehadirannya bersama rekan penyuluh merupakan upaya untuk lebih memahami dan mendukung praktik keagamaan yang telah menjadi bagian dari warisan budaya bangsa.

"Kami ingin terus mendukung pelestarian kearifan Islam Nusantara. Tradisi seperti yang ada di Masjid Saka Tunggal ini menunjukkan perpaduan yang harmonis antara ajaran Islam dan nilai-nilai lokal yang luhur," ujarnya.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi penyuluh agama lainnya untuk lebih aktif terlibat dalam komunitas-komunitas Islam tradisional di Banyumas, khususnya di wilayah Wangon.