Gelar Salat Istisqa di Alun-Alun Purwokerto, Pemkab dan Kemenag Banyumas Serukan Ikhtiar Spiritual serta Kepedulian Lingkungan
Banyumas — Pemerintah Kabupaten Banyumas bersama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar ibadah Salat Istisqa secara berjamaah di Alun-Alun Purwokerto. Pelaksanaan ibadah ini diikuti oleh ratusan warga, jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Setda Banyumas, pegawai Kementerian Agama, ulama, serta masyarakat umum sebagai bentuk ikhtiar batin memohon turunnya hujan di tengah musim kemarau panjang. Senin (12/10)
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Ibnu Asaddudin, menyampaikan bahwa pelaksanaan Salat Istisqa ini merupakan wujud ikhtiar bersama seluruh umat beragama dan jajaran pemerintah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta memohon solusi atas musibah kekeringan yang melanda. "Melalui kegiatan ini, kita menyatukan doa dan ikhtiar batin agar Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa berkah dan rahmat bagi seluruh masyarakat Banyumas," ujar Ibnu Asaddudin.
Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa kekeringan hebat yang melanda wilayah Banyumas tahun ini dipicu oleh dinamika fenomena El Niño, serupa dengan kondisi yang pernah terjadi pada tahun 2023. Ia berharap dampak kekeringan ini tidak semakin parah dan dapat segera teratasi melalui kombinasi ikhtiar spiritual dan penanganan taktis di lapangan.
"Melalui Salat Istisqa ini, kita berikhtiar mendekatkan diri kepada Allah SWT, memohon ampunan atas segala kekhilafan, sekaligus memohon agar Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa manfaat serta keberkahan bagi kita," ujar Sadewo.
Sebagai langkah tanggap darurat nyata, Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus mengintensifkan penyaluran air bersih bagi warga terdampak. Sadewo menyebutkan bahwa pihak BPBD mengerahkan enam tangki air setiap hari untuk memenuhi kebutuhan warga di berbagai wilayah yang mengalami krisis air bersih. Salah satu wilayah yang mendapat perhatian intensif karena luasnya dampak kekeringan adalah Kecamatan Purwojati.
Meski pemerintah berupaya maksimal mendistribusikan bantuan, Sadewo tetap mengingatkan masyarakat agar senantiasa saling membantu antartetangga serta bijak dalam menghemat penggunaan air bersih. "Di samping ikhtiar spiritual, kita juga perlu terus berikhtiar nyata, antara lain dengan menghemat penggunaan air, menjaga sumber-sumber air, serta saling membantu masyarakat yang terdampak kekeringan," tambahnya.
Sementara itu, Ketua MUI Kabupaten Banyumas, KH. Teefur Arofat, dalam khutbahnya menyampaikan tiga pesan moral mendalam menyikapi kemarau panjang ini. Pertama, pentingnya mensyukuri nikmat air yang sering kali diabaikan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, pentingnya melakukan introspeksi diri (muhasabah) karena kondisi alam dan musibah tidak lepas dari perbuatan serta tata kelola manusia terhadap lingkungan. Ketiga, mengajak jamaah untuk memperbanyak istigfar, memohon ampunan, serta meningkatkan kepedulian sosial dengan menjaga kelestarian alam sekitar.
Melalui sinergi antara ikhtiar batin lewat doa dan istigfar, serta langkah taktis penyaluran air bersih oleh pemerintah daerah, diharapkan Kabupaten Banyumas dapat segera melewati masa kekeringan ini dengan penuh keberkahan, ketenteraman, dan keselamatan bagi seluruh warganya.
