Hadirkan Layanan Ramah Anak di KUA Jatilawang
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Di tengah dinamika pelayanan publik yang kerap identik dengan kesibukan dan formalitas, hadir sebuah sentuhan lembut yang menghangatkan suasana di KUA Jatilawang. Muji Riyanti, salah satu staf KUA Jatilawang, menghadirkan nuansa pelayanan yang berbeda melalui komitmennya menyambut setiap tamu dengan slogan “ramah anak”, sebuah pendekatan yang tidak hanya menyapa orang dewasa, tetapi juga memuliakan dunia kecil para anak yang sering kali ikut hadir dalam setiap urusan keluarga. Jumat (19/06)
Di ruang pelayanan yang sederhana, suara lembut dan sikap penuh perhatian menjadi bahasa pertama yang dirasakan setiap pengunjung. Anak-anak yang datang tidak lagi merasa asing atau takut berada di lingkungan yang penuh dokumen dan administrasi, melainkan disambut dengan senyum yang seolah berkata bahwa mereka juga bagian penting dari perjalanan pelayanan ini.
Bagi Muji Riyanti, keramahan bukan sekadar etika kerja, melainkan jembatan hati yang menghubungkan pelayanan dengan kemanusiaan. Slogan “ramah anak” yang ia terapkan bukan hanya tulisan atau ungkapan, tetapi wujud nyata dari kepedulian bahwa setiap anak berhak merasa aman, dihargai, dan disambut dengan kasih sayang di ruang publik.
Di sela aktivitas pelayanan, ia kerap terlihat menundukkan diri setara dengan pandangan anak-anak, menyapa dengan tutur kata yang lembut, dan menghadirkan suasana yang menenangkan. Hal sederhana itu sering kali menjadi pengalaman berkesan bagi para orang tua yang datang membawa buah hati mereka, seolah menemukan oase kecil di tengah urusan administrasi yang melelahkan.
Pelayanan yang berlandaskan keramahan ini perlahan menghadirkan suasana berbeda di KUA Jatilawang. Tidak lagi sekadar ruang formal yang kaku, melainkan ruang yang hidup dengan nilai-nilai kemanusiaan, di mana setiap tamu diperlakukan bukan hanya sebagai pemohon layanan, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar yang dihargai keberadaannya.
Laksana cahaya kecil yang menyelinap di celah-celah kesibukan, sikap ramah yang ditunjukkan Muji Riyanti memberi makna bahwa pelayanan publik sejatinya adalah tentang menghadirkan ketenangan di hati orang lain. Dan ketika anak-anak merasa diterima dengan hangat, di situlah masa depan sedang ditumbuhkan dengan penuh kelembutan.
Suatu hal yang tampak sederhana—sebuah senyum, sapaan lembut, atau perhatian kecil kepada anak-anak—ternyata mampu meninggalkan kesan yang mendalam. Bahkan bagi sebagian pengunjung, pengalaman itu menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak selalu hadir dalam bentuk besar, tetapi justru tumbuh dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan ketulusan.
Di balik meja pelayanan yang sederhana itu, Muji Riyanti seolah sedang menulis kisah tentang bagaimana sebuah institusi dapat menjadi lebih manusiawi. Bahwa pelayanan tidak hanya tentang prosedur, tetapi juga tentang rasa; bukan hanya tentang administrasi, tetapi juga tentang kasih yang dihadirkan dalam setiap interaksi.
Dan ketika hari pelayanan berakhir, yang tersisa bukan sekadar tumpukan berkas yang telah selesai diproses, melainkan jejak senyum anak-anak yang pulang dengan hati lebih tenang. Sebab di tempat itu, mereka belajar bahwa dunia orang dewasa tidak selalu menakutkan—ia bisa hangat, lembut, dan penuh cinta.
Sebuah pesan sederhana pun seakan terukir: bahwa pelayanan yang ramah anak bukan hanya untuk hari ini, tetapi investasi kemanusiaan untuk masa depan yang lebih penuh kasih.
