HUT RI #81

Kemarau Panjang Dorong SMA Negeri Banyumas Gelar Salat Istisqa

Oleh HUMAS
SHARE

Banyumas — Kemarau panjang yang mulai berdampak pada ketersediaan air, kesehatan, dan aktivitas sekolah mendorong SMA Negeri Banyumas melaksanakan Salat Istisqa. Bertempat di lapangan sekolah, siswa bersama guru dan tenaga kependidikan mengikuti salat sebagai ikhtiar spiritual memohon turunnya hujan kepada Allah SWT. Hadir dalam kegiatan tersebut Pengawas PAI Siti Nur Hidayati yang akrab disapa Inung, Kepala KUA Banyumas Nastholih beserta jajaran, warga sekitar, serta semua unsur sekolah. Jumat (02/10)

Sebelum pelaksanaan salat, Nastholih memberikan penjelasan mengenai tata cara Salat Istisqa agar jamaah memahami rangkaian dan alur pelaksanaannya. Salat dipimpin oleh Eko Widodo sebagai imam, sedangkan Siswandi bertugas sebagai khatib. Kegiatan ini menjadi momentum penting karena merupakan pelaksanaan Salat Istisqa pertama pada musim kemarau tahun ini yang diselenggarakan di lingkungan satuan pendidikan di Kabupaten Banyumas.

Menurut Inung, Salat Istisqa tidak semata-mata dimaknai sebagai ritual permohonan hujan, tetapi juga dapat menjadi momentum pendidikan spiritual untuk membangun kesadaran ekologis. “Salat Istisqa merupakan ikhtiar kita memohon kepada Sang Pemilik jagad raya agar menurunkan hujan. Namun lebih dari itu, kegiatan ini semestinya menjadi momentum membangun kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga keseimbangan lingkungan,” ungkapnya.

Kepala SMA Negeri Banyumas, Erlin Retno Viyanti, menjelaskan bahwa dampak kemarau mulai dirasakan di lingkungan sekolah. Debu yang beterbangan memicu keluhan kesehatan seperti flu, batuk, dan pilek pada sebagian siswa. Sebagai sekolah Adiwiyata, keterbatasan air juga menjadi tantangan dalam merawat tanaman dan mempertahankan lingkungan hijau sekolah. Kondisi tersebut menjadikan kekeringan bukan lagi sekadar fenomena alam, tetapi persoalan nyata yang bersentuhan langsung dengan kehidupan warga sekolah. Erlin juga berharap lingkungan yang sudah asri jika Allah kabulkan turun hujan, agar dijaga dan dirawat karena ini bentuk dari car akita bersukur kepada Allah.

Guru PAI SMA Negeri Banyumas, Slamet, menuturkan bahwa siswa mengikuti Salat Istisqa dengan antusias. Dalam proses persiapan hingga pelaksanaan, Slamet bersama tiga Guru PAI lainnya, yakni Afik Ahsanti, Fatkhatul Mar’ah, dan Kristiya Septian Putra, turut mengondisikan dan memastikan kegiatan berjalan tertib dan lancar. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan kegiatan keagamaan di sekolah tidak hanya ditentukan oleh pelaksanaan ritual, tetapi juga oleh kerja kolektif guru dalam menciptakan pengalaman keagamaan yang terarah dan edukatif.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran keagamaan dapat menjadi lebih bermakna ketika dihubungkan dengan persoalan nyata. Siswa tidak hanya mempelajari konsep tentang pentingnya air dan menjaga lingkungan, tetapi mengalami langsung dampak kekeringan terhadap kesehatan, kenyamanan belajar, dan keberlangsungan ekosistem sekolah.

Dalam perspektif ekoteologi Islam, alam merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah, sementara manusia mengemban amanah untuk menjaganya. Karena itu, doa memohon hujan semestinya berjalan bersama ikhtiar ekologis melalui penghematan air, perawatan tanaman, kebersihan lingkungan, serta pencegahan perilaku yang merusak alam. Pada titik ini, Salat Istisqa dapat menjadi jembatan antara kesadaran spiritual dan tanggung jawab ekologis.

Pengalaman tersebut juga selaras dengan prinsip Pembelajaran Mendalam, khususnya pembelajaran yang meaningful. Siswa berhadapan langsung dengan persoalan kekeringan dan diajak merefleksikan hubungan antara air, kesehatan, lingkungan, manusia, dan keberlanjutan kehidupan. Sementara dalam perspektif Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), cinta kepada Allah tidak berhenti pada ritual, tetapi diaktualisasikan melalui cinta kepada sesama dan seluruh ciptaan-Nya. Kepedulian terhadap lingkungan dengan demikian menjadi wujud konkret nilai spiritual dalam kehidupan.

Inung berharap Salat Istisqa tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. “Saya berharap Salat Istisqa bukan sekadar kegiatan memohon kepada Allah agar diturunkan hujan. Lebih jauh, ini dapat menjadi bagian dari ekoteologi yang mengedepankan cinta lingkungan sekaligus memenuhi kebutuhan spiritual manusia,” tegasnya.

Dengan demikian, kemarau panjang dapat menjadi teachable moment bagi sekolah: fenomena alam diolah menjadi pengalaman belajar yang mempertemukan spiritualitas, pengetahuan ekologis, kesehatan, karakter, dan tanggung jawab sosial. Dari kekeringan tumbuh kesadaran, dari doa lahir ikhtiar, dan dari cinta kepada Allah tumbuh kepedulian terhadap ciptaan-Nya. Di sinilah Salat Istisqa memperoleh makna yang lebih luas sebagai bagian dari pendidikan yang membentuk generasi religius, ekologis, dan bertanggung jawab terhadap keberlanjutan kehidupan./nungh.