HUT RI #81

Kembangkan Budaya Caqur Sabari, Sekolah Semakin Dicintai Masyarakat

Oleh HUMAS
SHARE

Wangon - Budaya religius di sekolah tidak selalu harus diwujudkan melalui program keagamaan yang besar dan kompleks. Justru, kekuatan budaya religius terletak pada pembiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten hingga menjadi bagian dari karakter dan kehidupan sehari-hari warga sekolah. Gagasan inilah yang mendorong Pengawas PAI, Siti Nur Hidayati, untuk mengembangkan budaya “Caqur Sabari”di SMK Ma’arif Wangon. Kamis (13/08)

Caqur Sabari merupakan akronim dari “Membaca Al-Qur’an Setiap/Saban Hari”, sebuah gerakan pembiasaan membaca Al-Qur’an yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Membaca Al-Qur’an dapat dilakukan di sekolah, di rumah, maupun di mana saja sesuai dengan kondisi dan kesempatan masing-masing. Esensi program ini bukan sekadar meningkatkan frekuensi membaca Al-Qur’an, tetapi membangun kebiasaan religius yang melekat dalam kehidupan peserta didik sehingga nilai-nilai Al-Qur’an secara bertahap hadir dalam pola pikir, sikap, dan perilaku mereka.

Menurut Siti Nur Hidayati, budaya Caqur Sabari perlu dikembangkan sebagai sebuah gerakan yang sederhana, inklusif, dan berkelanjutan. Pembiasaan membaca Al-Qur’an akan memiliki dampak yang lebih kuat apabila tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi budaya yang hidup dalam keseharian peserta didik. Karena itu, sekolah perlu membangun ekosistem yang mendukung keterlibatan guru, peserta didik, tenaga kependidikan, dan orang tua.

“Caqur Sabari tidak harus selalu dimaknai membaca Al-Qur’an dalam jumlah yang banyak. Yang lebih penting adalah adanya konsistensi. Sedikit tetapi dilakukan setiap hari akan lebih bermakna ketika menjadi kebiasaan. Inilah yang perlu kita bangun sebagai budaya religius sekolah,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Pengawas PAI mendorong SMK Ma’arif Wangon agar praktik baik yang selama ini telah berjalan tidak berhenti sebagai aktivitas rutin, tetapi dikembangkan menjadi *best practice* sekolah. Dokumentasi kegiatan menjadi penting untuk memastikan bahwa program dapat dipetakan, dipantau, dievaluasi, dan dikembangkan secara berkelanjutan. Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi juga dari perubahan kebiasaan dan dampak yang ditimbulkannya terhadap kehidupan religius peserta didik.

Pendekatan tersebut sekaligus menempatkan Caqur Sabari dalam kerangka pengembangan budaya sekolah berbasis pembiasaan. Program perlu memiliki tujuan yang jelas, mekanisme pelaksanaan yang sederhana, indikator keterlaksanaan, dokumentasi, refleksi, serta evaluasi dampak. Dengan pengelolaan yang sistematis, praktik baik yang semula bersifat lokal dapat menjadi model yang dapat direplikasi dan dikembangkan oleh satuan pendidikan lainnya.

Gagasan tersebut mendapat sambutan positif dari Kepala SMK Ma’arif Wangon, Mukhtarom. Menurutnya, pengembangan budaya religius merupakan bagian penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap sekolah. Di tengah kebutuhan orang tua terhadap pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kompetensi akademik, sekolah juga dituntut mampu menghadirkan lingkungan pendidikan yang memberikan rasa aman, nyaman, dan ketenangan batin.

“Banyak orang tua yang merasa lebih tenang ketika menyekolahkan anaknya di sekolah yang memiliki budaya religius. Karena itu, program seperti ini perlu dikelola dengan baik agar benar-benar menjadi budaya sekolah, bukan sekadar kegiatan sesaat,” demikian pandangannya.

Kesiapan sekolah semakin kuat dengan dukungan guru PAI, Tri Sunarti, M. Ali Sobirin, dan Sulaiman, yang menyatakan kesiapan untuk mengembangkan program Caqur Sabari. Peran guru PAI menjadi strategis bukan hanya sebagai pelaksana kegiatan, tetapi juga sebagai penggerak, pendamping, sekaligus evaluator pembiasaan religius peserta didik.

Pengembangan Caqur Sabari pada akhirnya bukan sekadar gerakan membaca Al-Qur’an, melainkan sebuah ikhtiar membangun religious culture yang berangkat dari kebiasaan sederhana, dilakukan secara konsisten, terdokumentasi, terukur, dan berorientasi pada dampak. Sekolah diharapkan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang kompeten secara akademik dan vokasional, tetapi juga memiliki kedekatan dengan Al-Qur’an, karakter yang baik, serta kesadaran untuk menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam kehidupan.

Dengan semangat “Caqur Sabari—Al-Qur’an setiap hari, di sekolah, di rumah, dan di mana saja”, SMK Ma’arif Wangon berpeluang menjadikan pembiasaan tersebut sebagai identitas budaya sekolah sekaligus sebuah praktik baik yang dapat menginspirasi satuan pendidikan lainnya.
by_nungh