HUT RI #81

KUA Ajak Catin Menanggalkan Ego Demi Harmoni Rumah Tangga

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
12 Mar 2026
26x dibaca
SHARE

Banyumas — Suasana haru dan penuh kehangatan menyelimuti ruang pelayanan di KUA Jatilawang ketika Penyuluh Agama, Muhammad Taubah, memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada sepasang calon pengantin, Harnanto dan Risdayanti. Di tengah kesederhanaan ruangan itu, terselip nasihat-nasihat kehidupan yang begitu dalam, menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya. Kamis (12/03)

Bimbingan tersebut mengangkat tema yang sangat mendasar dalam membangun rumah tangga, yakni menghilangkan sikap egois di antara pasangan. Dalam suasana yang penuh kekhidmatan, Muhammad Taubah menuturkan bahwa pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan dalam ikatan suci, melainkan juga penyatuan dua hati yang harus belajar saling memahami, saling mengalah, dan saling melengkapi.

Dengan tutur kata yang lembut namun sarat makna, ia menjelaskan bahwa egoisme sering kali menjadi batu sandungan dalam kehidupan rumah tangga. Ketika masing-masing pasangan hanya memikirkan keinginan sendiri, maka keharmonisan yang diimpikan perlahan dapat memudar.

“Pernikahan bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi tentang bagaimana dua hati belajar untuk saling mengerti. Ketika ego mampu ditundukkan oleh cinta dan keikhlasan, di situlah rumah tangga akan menemukan kedamaian,” tutur Muhammad Taubah dengan penuh keteduhan.

Nasihat tersebut disampaikan dengan pendekatan yang menyentuh perasaan, membuat suasana bimbingan terasa begitu mendalam. Harnanto dan Risdayanti tampak menyimak dengan sungguh-sungguh, seakan menyadari bahwa perjalanan rumah tangga yang akan mereka jalani kelak tidak hanya membutuhkan cinta, tetapi juga kesabaran dan kerendahan hati.

Muhammad Taubah juga menekankan bahwa dalam kehidupan berumah tangga, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Namun, pasangan yang mampu mengendalikan ego dan mengedepankan dialog yang penuh kasih akan lebih mudah menemukan jalan tengah dalam setiap persoalan.

Ia mengingatkan bahwa rumah tangga yang bahagia tidak dibangun oleh kesempurnaan dua insan, melainkan oleh kesediaan untuk saling menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain.

“Cinta yang sejati bukanlah ketika dua orang selalu sepakat dalam segala hal, tetapi ketika keduanya mampu bertahan dan tetap saling menggenggam meski perbedaan datang silih berganti,” ujarnya.

Bimbingan perkawinan tersebut menjadi momen refleksi yang mendalam bagi pasangan calon pengantin. Di tengah persiapan menuju hari bahagia mereka, nasihat yang diberikan menjadi bekal berharga untuk menapaki kehidupan baru sebagai suami dan istri.

Kegiatan Bimwin di KUA Jatilawang ini merupakan bagian dari upaya pembinaan keluarga sakinah, yang tidak hanya mempersiapkan pasangan secara administratif, tetapi juga secara mental dan spiritual. Melalui bimbingan yang penuh ketulusan, Muhammad Taubah berharap setiap pasangan yang akan menikah mampu membangun rumah tangga yang dilandasi cinta, kesabaran, dan pengorbanan.

Pada akhirnya, pertemuan sederhana itu meninggalkan pesan yang begitu dalam: bahwa kebahagiaan dalam rumah tangga tidak lahir dari kemenangan ego, melainkan dari kerelaan dua hati untuk saling merendahkan diri, saling memaafkan, dan saling menjaga hingga akhir perjalanan kehidupan.