Mas Ekodaya Resmi Diluncurkan, Jadikan Masjid Pusat Peradaban Umat

Oleh HUMAS
SHARE

Purwokerto – Kementerian Agama Kabupaten Banyumas resmi meluncurkan program unggulannya bertajuk Mas Ekodaya (Masjid Berbasis Sosial, Ekonomi, Pendidikan, dan Budaya), di Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas. Program ini menjadi langkah strategis menghidupkan kembali fungsi masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan dan peradaban umat. Selasa (24/06).

Program Mas Ekodaya merupakan tindak lanjut dari diklat takmir masjid yang telah dilaksanakan pada 14 Juni 2025 di Aula Al Ikhlas Kantor Kemenag Banyumas. Gagasan ini diinisiasi oleh Kepala Kantor Kemenag Banyumas, Ibnu Asaddudin, sebagai proyek perubahan kelembagaan yang bertujuan menjadikan masjid sebagai episentrum aktivitas umat. Program ini berkolaborasi dengan banyak pihak, termasuk Dinas Kesehatan, Dindukcapil, Dinporabudpar, Dinas Pendidikan, Kesbangpol, Dinkop UKM, Baznas, BPJS Ketenagakerjaan, perbankan syariah BSI, serta lembaga-lembaga sosial lainnya.

Dalam sambutannya, Ibnu Asaddudin mengutip Surat At-Taubah ayat 18 yang menegaskan bahwa yang layak disebut orang beriman adalah orang orang yang memakmurkan masjid.

“ Mas Ekodaya lahir dari keinginan menjadikan masjid lebih dari sekadar tempat ibadah. Masjid harus hadir untuk umat yang menyentuh aspek sosial, ekonomi, pendidikan, hingga budaya,” ujarnya.

“ Kami mengucapkan terima kasih kepada semua stakeholder yang telah mensuport dan mendukung pelaksanaan program Mas Ekodaya di kabupaten Banyumas. Kedepannya masjid masjid di Banyumas harus bisa menerapkan konsep Mas Ekodaya, untuk saat ini sudah ada 82 masjid yang takmirnya telah mengikuti pelatihan, dan Masjid Nur Sulaiman Banyumas ini dijadikan sebagai percontohan awal Mas Ekodaya.” ujarnya lebih lanjut.

Sementara itu Wahyu ketua Takmir Masjid Agung Nur Sulaiman  memaparkan sejarah transformasi masjid Nur Sulaiman  sejak pandemi COVID-19.

“ Pada tahun 2020, muncul gerakan ta'awun atau kepedulian sosial, melalui bantuan sembako dan pengobatan untuk masyarakat terdampak. Kini, masjid tersebut menjadi masjid yang terbuka selama 24 jam, lengkap dengan CCTV, Wifi, keamanan, air minum gratis, ruang menyusui, hingga penginapan. Selain itu juga tersedia lapak UMKM, pemeriksaan kesehatan gratis, santunan anak yatim, serta menjadi lokasi penelitian mahasiswa. Bahkan, sebagai masjid cagar budaya peninggalan Kesultanan Surakarta, fungsi edukasi dan budaya turut diperkuat.” ungkapnya.

Ditempat yang sama, Camat Banyumas, Oka, saat membacakan sambutan Bupati Banyumas menjelaskan bahwa melalui program ini, saya berharap masjid tidak lagi dipahami semata-mata sebagai tempat untuk menjalankan salat berjamaah, tetapi mampu tumbuh menjadi pusat peradaban umat yang sesungguhnya.

“ Masjid bisa menjadi motor penggerak pemberdayaan ekonomi umat, misalnya melalui pendirian koperasi syariah atau pengembangan UMKM berbasis masjid yang dikelola secara profesional dan transparan.” jelasnya.

“ Saya mengapresiasi setinggi-tingginya kepada penggagas Mas Ekodaya, semoga menginspirasi masjid-masjid lain di Jawa Tengah, bahkan secara nasional,” terang  Kakanwil Kemenag Jawa Tengah, Saiful Mujab, saat memberikan sambutan.

“Mas Ekodaya sebagai model perubahan positif yang perlu ditiru. Ia menekankan bahwa masjid adalah pusat komunikasi habluminallah dan habluminannas. Ia juga menyoroti pentingnya manajemen jamaah, baik tetap maupun tidak tetap, untuk menjadikan masjid lebih ramah dan dinamis. “

“ Dengan diluncurkannya Mas Ekodaya, Kemenag Banyumas berharap masjid dapat benar-benar menjadi ruang yang memuliakan umat secara lahir dan batin. Program ini bukan sekadar simbol, tapi gerakan nyata membangun masjid sebagai pusat kesejahteraan dan peradaban umat Islam yang inklusif, ramah, dan berdampak" pungkasnya. (yud/del)