Melawan Senja dengan Kalam Ilahi: Semangat Lansia Srowot Menjemput Bekal Akhirat

Oleh KUA kalibagor
SHARE

Kalibagor – Gema selawat dan lantunan ayat suci Al-Qur'an memecah keheningan di sela riuhnya aktivitas warga Desa Srowot. Di sebuah bangunan sederhana yang menjadi markas Majelis Taklim (MT) Al Islam, puluhan ibu-ibu lanjut usia tampak berkumpul dengan balutan mukena dan kerudung bersahaja. Mereka bukan sekadar berkumpul, melainkan sedang berjihad melawan keterbatasan usia demi mengejar keberkahan di masa tua. Rabu (13/05)

Kegiatan pengajian rutin ini dilaksanakan bersama Penyuluh Agama Islam dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kalibagor. Meski raga tak lagi sebugar dahulu, semangat para lansia di Srowot ini menjadi bukti nyata bahwa menuntut ilmu agama tidak mengenal batas usia.

Bagi para jamaah MT Al Islam, setiap langkah menuju tempat mengaji adalah investasi untuk perjalanan panjang menuju akhirat. Di tengah kesibukan mengurus rumah tangga atau sekadar beristirahat di masa tua, mereka memilih untuk menyisihkan waktu, duduk bersimpuh, dan menyimak bimbingan agama dengan penuh takzim.

"Usia boleh senja, tapi hati harus tetap terang dengan cahaya Al-Qur'an," ungkap salah satu pengurus majelis. Kesadaran akan pentingnya "bekal pulang" inilah yang menjadi motor penggerak utama kehadiran mereka setiap minggunya.

Kehadiran Penyuluh Agama Islam dari KUA Kalibagor memberikan warna tersendiri. Bimbingan yang diberikan tidak hanya terpaku pada cara membaca Al-Qur'an yang benar (tajwid), tetapi juga mencakup:

  1. Fiqih Ibadah: Memperdalam tata cara salat dan bersuci agar lebih sempurna.
  2. Penguatan Mental: Memberikan motivasi spiritual dalam menghadapi masa tua dengan bahagia dan penuh syukur.
  3. Dialog Interaktif: Ruang konsultasi agama yang santai namun berbobot.

Penyuluh dari KUA Kalibagor mengapresiasi ketekunan para ibu ini. Walau terkadang ingatan mulai menurun, semangat mereka untuk mengulang-ulang hafalan dan memperbaiki bacaan sangat patut dicontoh oleh generasi muda.

Kegiatan di MT Al Islam Srowot ini mengirimkan pesan kuat kepada masyarakat luas: bahwa masa tua seharusnya diisi dengan kedekatan kepada Sang Khalik. Sinergi antara lembaga formal seperti KUA melalui penyuluhnya dengan majelis taklim akar rumput menciptakan benteng spiritual yang kokoh di tengah masyarakat.