HUT RI #81

Menerima, Memahami dan Saling Menguatkan Dalam Segala Keadaan

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
11 Mar 2026
40x dibaca
SHARE

Banyumas – Suasana siang di KUA Jatilawang, terasa berbeda. Tidak ada gemuruh pesta atau riuhnya perayaan. Yang ada hanyalah ketenangan, nasihat yang tulus, serta harapan akan masa depan yang akan dibangun dengan cinta dan kesabaran. Di KUA Jatilawang itulah Muhammad Taubah memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada sepasang calon pengantin, Asep dan Utami. Keduanya duduk berdampingan dengan wajah yang menyimpan harap sekaligus kegugupan, menyimak setiap pesan yang disampaikan dengan penuh kesungguhan. Rabu (11/03)

Bagi banyak orang, pernikahan sering dipahami sebagai pertemuan dua insan yang saling mencintai. Namun bagi Muhammad Taubah, pernikahan adalah pertemuan dua jiwa yang belajar untuk menerima, memahami, dan saling menguatkan dalam segala keadaan.

Dengan suara yang lembut namun sarat makna, ia menyampaikan bahwa rumah tangga bukan hanya tentang kebahagiaan yang tampak indah di permukaan, melainkan perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan.

“Setiap manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan,” ujarnya pelan. “Ketika dua orang memutuskan menikah, sesungguhnya mereka sedang berjanji untuk menerima keduanya dengan hati yang lapang.”

Nasihat itu membuat suasana ruangan seketika terasa hening. Asep dan Utami menunduk, seakan merenungkan setiap kalimat yang mengalir dari sang penyuluh.

Dalam bimbingan tersebut, Muhammad Taubah menekankan bahwa kunci kebahagiaan rumah tangga terletak pada kemampuan menerima pasangan dengan ikhlas dan tulus, bukan hanya ketika keadaan menyenangkan, tetapi juga ketika kekurangan dan perbedaan mulai tampak dalam perjalanan hidup bersama.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang."
(QS. Ar-Rum: 21)

Menurutnya, ketenteraman dalam rumah tangga tidak lahir dari kesempurnaan pasangan, melainkan dari ketulusan menerima ketidaksempurnaan.

“Jika suatu hari nanti kalian melihat kekurangan pasangan,” lanjutnya, “ingatlah kembali mengapa kalian memilihnya. Jangan hanya melihat apa yang kurang, tetapi lihatlah juga kebaikan yang pernah membuat hati kalian yakin untuk melangkah bersama.”

Bimbingan itu tidak hanya menjadi sesi pembelajaran formal, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi pasangan calon pengantin tersebut. Sesekali senyum tipis terlihat di wajah mereka, namun di balik senyum itu tersimpan kesadaran bahwa pernikahan adalah amanah besar yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.

Muhammad Taubah juga mengingatkan bahwa dalam kehidupan rumah tangga, perbedaan adalah hal yang tidak terhindarkan. Namun perbedaan tidak harus menjadi sumber pertengkaran, melainkan dapat menjadi jembatan untuk saling memahami dan tumbuh bersama.

“Rumah tangga yang bahagia bukan rumah tangga tanpa masalah,” katanya, “melainkan rumah tangga yang mampu menyelesaikan masalah dengan cinta, kesabaran, dan doa.”

Bimbingan perkawinan yang dilaksanakan oleh KUA Jatilawang ini merupakan bagian dari upaya mempersiapkan calon pasangan suami istri agar memiliki bekal pengetahuan dan kesiapan mental sebelum memasuki kehidupan berumah tangga.

Di akhir sesi, Muhammad Taubah menutup bimbingan dengan doa yang penuh harap. Ia memohon agar perjalanan rumah tangga Asep dan Utami kelak dipenuhi keberkahan, ketenangan, serta cinta yang terus tumbuh seiring waktu.

Suasana ruangan kembali hening. Dalam keheningan itu, seolah tersirat sebuah pesan yang sederhana namun sangat dalam: bahwa pernikahan bukan tentang menemukan manusia yang sempurna, tetapi tentang mencintai seseorang dengan sepenuh hati, termasuk segala kekurangannya.

Dan pada hari itu, di ruang kecil KUA Jatilawang, dua hati sedang dipersiapkan untuk memulai perjalanan panjang bernama kehidupan—dengan bekal keikhlasan, ketulusan, dan keyakinan bahwa cinta yang sejati selalu mampu menerima apa adanya.