Menjaga Rasa Saat Jarak Memisahkan
Banyumas — Di tengah keheningan yang menenangkan di KUA Jatilawang, terangkai sebuah pertemuan yang bukan sekadar bimbingan, melainkan perenungan mendalam tentang cinta yang harus tetap utuh meski jarak membentang. Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada pasangan calon pengantin, Fahmi Purnomo dan Fitroh Khasanah, dengan tema yang begitu relevan di zaman ini: kepercayaan saat jarak memisahkan suami istri. Rabu (25/03)
Dalam suasana santun dan penuh kelembutan, setiap kalimat yang disampaikan terasa seperti pelita bagi perjalanan panjang yang akan mereka tempuh. Muhammad Taubah menuturkan bahwa tidak semua pasangan akan selalu berada dalam ruang dan waktu yang sama. Ada kalanya jarak menjadi bagian dari ujian kehidupan, entah karena pekerjaan, tanggung jawab, atau keadaan yang tak dapat dihindari.
“Jarak bukanlah akhir dari kedekatan, melainkan ujian bagi kepercayaan. Dalam pernikahan, bukan seberapa dekat kita secara fisik, tetapi seberapa kuat kita menjaga hati satu sama lain,” ungkapnya dengan suara yang tenang namun sarat makna.
Fahmi Purnomo dan Fitroh Khasanah tampak menyimak dengan penuh kesungguhan. Di balik diam mereka, tersimpan pemahaman baru bahwa cinta tidak selalu diukur dari kebersamaan setiap saat, melainkan dari keyakinan yang terus dijaga meski tak saling menggenggam secara langsung.
Dalam bimbingannya, Muhammad Taubah menekankan bahwa kepercayaan adalah fondasi utama dalam hubungan yang dipisahkan oleh jarak. Ia mengingatkan bahwa prasangka adalah awal dari keretakan, sementara kejujuran dan komunikasi menjadi jembatan yang menguatkan ikatan.
“Ketika jarak memisahkan, doa menjadi pengikat, kejujuran menjadi penjaga, dan kepercayaan menjadi rumah tempat cinta tetap tinggal,” tuturnya, menghadirkan suasana haru yang perlahan menyelimuti ruangan.
Lebih dari sekadar nasihat, Bimwin ini menjadi ruang pembelajaran yang menyentuh sisi terdalam kehidupan. KUA Jatilawang kembali menunjukkan perannya sebagai lembaga yang tidak hanya mengesahkan sebuah pernikahan, tetapi juga menyiapkan jiwa-jiwa untuk menghadapi kenyataan hidup dengan penuh kebijaksanaan.
Di penghujung sesi, suasana terasa syahdu. Tak ada air mata yang jatuh, namun getaran haru begitu terasa. Fahmi Purnomo dan Fitroh Khasanah melangkah keluar dengan keyakinan yang lebih kuat—bahwa cinta yang mereka bangun tidak akan goyah oleh jarak, selama kepercayaan tetap mereka jaga dengan sepenuh hati.
Dan pada akhirnya, dari ruang sederhana itu, terlahir sebuah pelajaran yang begitu dalam: bahwa cinta sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, tetapi dari seberapa setia menjaga satu sama lain, bahkan ketika jarak mencoba memisahkan.
