Merawat Cinta dengan Komunikasi Efektif Suami Istri
Banyumas — Dalam suasana yang tenang dan penuh harapan di KUA Jatilawang, sebuah pertemuan bermakna berlangsung sebagai bekal awal bagi sepasang calon pengantin yang tengah bersiap memasuki gerbang kehidupan rumah tangga. Pada kesempatan tersebut, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada Kiswan dan Sumaryanti dengan materi bertajuk “Komunikasi yang Efektif Suami dan Istri.” (Senin, 16/3)
Bimbingan perkawinan ini tidak sekadar menjadi bagian dari proses administrasi menjelang akad nikah, melainkan ruang refleksi yang mengajak calon pasangan memahami nilai-nilai dasar dalam membangun keluarga yang harmonis.
Dalam penyampaiannya, Muhammad Taubah menekankan bahwa komunikasi merupakan jembatan utama yang menghubungkan dua hati dalam kehidupan rumah tangga. Melalui komunikasi yang baik, suami dan istri dapat saling memahami perasaan, harapan, dan kebutuhan satu sama lain.
“Rumah tangga sering kali diuji bukan karena kurangnya cinta,” tuturnya dengan nada tenang, “melainkan karena kurangnya komunikasi yang jujur dan penuh penghargaan.”
Ia menjelaskan bahwa kata-kata dalam rumah tangga memiliki kekuatan besar—dapat menjadi pelipur luka sekaligus menjadi penyebab luka. Oleh karena itu, suami dan istri dituntut untuk menjaga tutur kata, mengedepankan kelembutan, serta membuka ruang dialog ketika menghadapi perbedaan.
Kiswan dan Sumaryanti menyimak setiap nasihat dengan penuh kesungguhan. Di hadapan mereka terbentang masa depan yang akan dibangun bersama, sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, pengertian, dan kemampuan untuk saling mendengarkan.
Muhammad Taubah juga mengingatkan bahwa komunikasi yang efektif bukan hanya tentang berbicara, tetapi juga tentang kesediaan untuk mendengar dengan hati. Ketika suami dan istri mampu saling mendengarkan tanpa prasangka, maka kehangatan dalam rumah tangga akan tumbuh dengan sendirinya.
“Kadang yang dibutuhkan pasangan bukanlah jawaban yang panjang,” ujarnya, “melainkan telinga yang bersedia mendengar dan hati yang mau memahami.”
Suasana bimbingan berlangsung hangat dan penuh makna. Kata demi kata yang disampaikan seolah menjadi lentera kecil yang menerangi langkah Kiswan dan Sumaryanti dalam mempersiapkan kehidupan rumah tangga yang akan mereka jalani.
Di penghujung kegiatan, harapan pun terucap dengan penuh ketulusan: semoga Kiswan dan Sumaryanti kelak mampu membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah, serta menjadikan komunikasi yang baik sebagai fondasi kuat dalam menjaga keutuhan rumah tangga mereka.
Sebab dalam kehidupan pernikahan, kebahagiaan tidak selalu lahir dari hal-hal besar, tetapi sering tumbuh dari percakapan sederhana—dari kata-kata yang tulus, dari hati yang saling mendengar, dan dari komunikasi yang efektif antara suami dan istri yang terus dirawat sepanjang perjalanan hidup bersama.
