Pengarahan Pencegahan Stunting bagi Calon Pengantin
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Di balik setiap senyum seorang anak yang tumbuh sehat, tersimpan ikhtiar panjang yang dimulai jauh sebelum ia dilahirkan. Kesadaran itulah yang menjadi ruh dalam kegiatan pengarahan bertema pencegahan stunting pada calon pengantin, yang menghadirkan Nisa dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas sebagai narasumber. Dalam kegiatan tersebut, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, turut mengikuti pembinaan sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi dalam membangun keluarga yang sehat, berkualitas, dan berdaya saing. Kamis (25/06)
Kegiatan berlangsung dalam suasana yang hangat dan penuh antusiasme. Para peserta diajak memahami bahwa pernikahan bukan hanya tentang menyatukan dua hati, tetapi juga tentang mempersiapkan generasi masa depan yang sehat secara fisik, mental, dan spiritual.
Dalam paparannya, Nisa menjelaskan pentingnya pencegahan stunting sejak masa pranikah. Menurutnya, kesehatan calon pengantin memiliki pengaruh besar terhadap kualitas kehidupan keluarga dan tumbuh kembang anak di masa mendatang. Oleh karena itu, edukasi mengenai gizi, kesehatan reproduksi, pola hidup sehat, dan kesiapan membangun keluarga menjadi bagian penting yang tidak dapat diabaikan.
"Anak yang sehat lahir dari keluarga yang siap. Persiapan itu dimulai sejak sebelum akad nikah dilaksanakan," jelasnya di hadapan peserta.
Muhammad Taubah menyambut baik materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut. Ia menilai bahwa penyuluh agama memiliki peran strategis dalam menyampaikan pesan-pesan penting terkait kesehatan keluarga kepada masyarakat, khususnya kepada calon pengantin yang sedang mempersiapkan kehidupan rumah tangga.
Menurutnya, membangun keluarga sakinah tidak hanya memerlukan kesiapan spiritual dan emosional, tetapi juga kesiapan kesehatan yang memadai. Sebab keluarga yang kuat lahir dari individu-individu yang sehat, baik jasmani maupun rohaninya.
Di tengah perkembangan zaman yang menghadirkan berbagai tantangan, isu stunting menjadi perhatian bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Kementerian Agama melalui para penyuluh agama dan Dinas Kesehatan melalui tenaga kesehatan memiliki tujuan yang sama, yaitu menghadirkan generasi penerus bangsa yang tumbuh optimal dan mampu meraih masa depan yang gemilang.
Kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa cinta dalam pernikahan tidak hanya diwujudkan melalui kata-kata dan janji, tetapi juga melalui kesungguhan mempersiapkan kehidupan yang terbaik bagi anak-anak yang kelak akan lahir. Sebab setiap orang tua tentu mendambakan buah hati yang tumbuh sehat, cerdas, dan bahagia.
Di sela-sela pembinaan, para peserta tampak menyimak dengan penuh perhatian. Mereka menyadari bahwa ilmu yang diperoleh hari itu bukan sekadar informasi, melainkan bekal berharga yang akan menentukan kualitas kehidupan keluarga di masa depan.
Sesungguhnya, stunting bukan hanya persoalan angka dan data statistik. Di balik setiap upaya pencegahannya terdapat harapan seorang ibu yang ingin melihat anaknya tumbuh kuat, doa seorang ayah yang ingin menyaksikan buah hatinya meraih cita-cita, serta mimpi bangsa yang mendambakan generasi unggul sebagai penerus masa depan.
Melalui keikutsertaan Muhammad Taubah dalam kegiatan tersebut, semangat edukasi dan pendampingan kepada calon pengantin semakin diperkuat. Sebuah langkah kecil yang mungkin tidak banyak terlihat, tetapi memiliki dampak besar bagi kehidupan generasi yang akan datang.
Hari itu, pembahasan tentang stunting bukan sekadar diskusi kesehatan. Ia menjadi percakapan tentang cinta yang paling tulus—cinta orang tua kepada anak-anaknya yang bahkan belum lahir ke dunia. Cinta yang diwujudkan melalui persiapan, perhatian, dan tanggung jawab sejak awal perjalanan rumah tangga dimulai.
Dan dari ruang pembinaan itu, harapan-harapan baru kembali ditanam. Harapan tentang keluarga yang sehat, anak-anak yang tumbuh kuat, dan masa depan bangsa yang dibangun oleh generasi yang lahir dari kasih sayang, ilmu pengetahuan, dan kesadaran untuk selalu memberikan yang terbaik bagi kehidupan.
