HUT RI #81

Pengawas PAI Dorong Penguatan Religious Culture dan Literasi Al-Quran di SMK Bunda Satria Wangon

HUMAS
HUMAS
11 Sep 2026
58x dibaca
SHARE

Wangon — Momentum Pemilihan Ketua OSIS (PILKETOS) di SMK Bunda Satria Wangon, menjadi ruang strategis bagi Pengawas PAI, Siti Nur Hidayati, yang akrab disapa Inung, untuk memberikan motivasi kepada kepala sekolah, guru, dan siswa. Inung menegaskan bahwa pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi harus membangun budaya sekolah yang membentuk karakter, spiritualitas, dan kesiapan peserta didik menghadapi kehidupan nyata. Karena itu, ia mendorong SMK Bunda Satria Wangon segera memperkuat dan memformalkan Program Religious Culture melalui SK program agar memiliki arah, struktur, indikator, serta keberlanjutan yang jelas. Jumat (11/09)

Salah satu prioritas yang ditekankan adalah optimalisasi program Basic Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) dengan target yang terukur, yakni adanya standar bahwa lulusan SMK Bunda Satria Wangon telah tuntas membaca Al-Qur’an. Menurut Inung, program yang baik tidak berhenti pada pelaksanaan, tetapi harus disertai sistem pengendalian mutu melalui Kartu Kendali atau Jurnal, pemantauan berkala, serta monitoring dan evaluasi yang benar. Guru PAI Dewi Roipah bersama tim menyatakan kesiapan untuk mengembangkan Religious Culture tersebut. Ia berharap semangat membangun budaya religius tidak menjadi perjuangan individu, melainkan menjadi gerakan bersama seluruh warga sekolah.

Di hadapan siswa, Inung juga menyampaikan pesan motivasional bahwa keberhasilan selalu berawal dari keberanian bermimpi besar dan kesediaan mengelola potensi secara serius. Jumlah siswa yang besar, menurutnya, bukan sekadar angka statistik, melainkan aset strategis sekolah yang harus dimanaj secara optimal sesuai tuntutan masyarakat sebagai pengguna lulusan. Gagasan tersebut mendapat dukungan kuat dari Kepala SMK Bunda Satria Wangon Aziz Hides Triyanto, Waka Kurikulum Bayu Prasetyo, dan Waka Kesiswaan Dayat Cahyono, yang sepakat bahwa penguatan budaya religius, ketuntasan BTQ, dan pengelolaan potensi siswa perlu dibangun secara sistematis, kolaboratif, dan berkelanjutan. Nunghied.