HUT RI #81

Pengawas PAI Dorong SMK SPM Nasional Terapkan Continuous Quality Improvement

Oleh HUMAS
SHARE

Purwokerto — Semangat meraih prestasi tidak cukup hanya dengan menjadi juara. Prestasi perlu dirawat, dievaluasi, dan dikembangkan secara berkelanjutan agar mampu mencapai level yang lebih tinggi. Prinsip inilah yang ditekankan Pengawas PAI, Siti Nur Hidayati, yang akrab disapa Inung, saat melakukan visitasi dan pembinaan di SMK SPM Nasional Purwokerto. Kamis (03/09).

Visitasi tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan penguatan kepada Arif Maulana, Guru PAI SMK SPM Nasional Purwokerto, yang berhasil meraih Juara I Lomba Pembelajaran Inovatif Guru SMK pada ajang MAPSI SMK Tingkat Kabupaten dan selanjutnya akan mewakili kabupaten untuk berkompetisi di tingkat provinsi.

Menurut Inung, capaian tersebut harus dipandang bukan sebagai titik akhir, melainkan sebagai starting point untuk peningkatan kualitas secara berkelanjutan. Karena itu, prinsip continuous quality improvement perlu menjadi budaya dalam setiap proses pengembangan karya.

“Untuk menjadi juara di tingkat provinsi, tidak cukup hanya mempertahankan karya yang sudah ada. Harus mau menerima kritik dan saran, melakukan evaluasi, kemudian terus berkreasi dan berinovasi,” pesan Inung.
Ia menilai, karya guru akan semakin kuat ketika dikembangkan melalui proses refleksi dan kolaborasi. Kritik tidak semestinya dipandang sebagai koreksi yang melemahkan, tetapi sebagai instrumen untuk menemukan ruang perbaikan dan menghasilkan karya yang semakin berkualitas.

Dalam kesempatan tersebut, Inung juga mendorong optimalisasi group binaan sebagai ruang berbagi informasi dan pengetahuan. Group tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi kedinasan, tetapi juga menjadi ruang sharing berbagai informasi terbaru, termasuk agenda lomba bagi guru maupun siswa.

Menurutnya, informasi tentang berbagai kompetisi bagi siswa sering kali tidak sampai kepada peserta didik karena alasan kesibukan. Padahal, kesibukan guru maupun sekolah semestinya tidak menjadi alasan untuk menutup akses siswa terhadap peluang pengembangan diri.

“Jangan sampai guru atau sekolah justru membatasi potensi siswa. Berikan ruang seluas-luasnya kepada mereka untuk mengeksplorasi bakat, minat, dan potensinya,” tegas Inung.

Bagi Inung, pendidikan yang berorientasi pada pengembangan potensi tidak hanya berbicara tentang pencapaian akademik di dalam kelas, tetapi juga bagaimana sekolah mampu menyediakan ekosistem yang memungkinkan setiap siswa menemukan, mengembangkan, dan menunjukkan keunggulannya.

Pandangan tersebut mendapat dukungan dari Ninik, Kepala SMK SPM Nasional Purwokerto, yang selama ini memberikan ruang dan dukungan terhadap berbagai kegiatan lomba. Menurutnya, kompetisi dapat menjadi salah satu wahana bagi siswa maupun guru untuk mengembangkan kemampuan sekaligus membangun budaya berprestasi di sekolah.

Sementara itu, Arif Maulana menyampaikan apresiasi atas dukungan sekolah yang memberikan ruang luas bagi dirinya untuk terus mengembangkan kompetensi dan kreativitas. Ia juga menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dengan Nasrullah, guru senior di sekolah tersebut, serta Pengawas PAI yang selama ini memberikan perhatian terhadap karya dan pengembangan profesional guru. Bagi Arif, dukungan lingkungan sekolah menjadi faktor penting dalam membangun keberanian guru untuk mencoba hal baru, berinovasi, dan menghasilkan karya yang lebih baik.

Kolaborasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa peningkatan mutu pembelajaran tidak lahir dari kerja individual semata. Ia tumbuh dari ekosistem belajar yang memungkinkan guru saling berbagi pengalaman, memberikan umpan balik, dan membangun karya secara bersama-sama.

Tidak hanya memberikan motivasi kepada guru, Inung juga menyampaikan penguatan kepada siswa SMK SPM Nasional Purwokerto agar senantiasa berkembang menjadi pelajar yang berprestasi, berkarakter mulia, dan taat beribadah.
Prestasi, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan karakter. Kemampuan akademik dan keterampilan harus dibangun bersama dengan integritas, akhlak, tanggung jawab, serta kesadaran spiritual.

“Jadilah siswa yang terus berkembang. Berprestasi itu penting, tetapi karakter mulia dan ketaatan beribadah juga harus menjadi fondasi,” pesannya.

Visitasi tersebut pada akhirnya bukan sekadar agenda pembinaan, tetapi menjadi momentum untuk membangun budaya mutu, budaya berprestasi, dan budaya belajar berkelanjutan di SMK SPM Nasional Purwokerto.

Dari sebuah karya yang berhasil menjadi juara tingkat kabupaten, kini terbuka peluang untuk melangkah lebih jauh. Dengan evaluasi, inovasi, kolaborasi, dan dukungan ekosistem sekolah, target menjadi juara provinsi bahkan juara nasional bukan sekadar harapan, tetapi sebuah proses yang dipersiapkan secara serius dan berkelanjutan. nungh