Pengukuhan Pengurus Yayasan Thalassaemia Indonesia dan POPTI Masa Bakti 2026–2031

Oleh Seksi Bimas
SHARE

Purwokerto – Upaya penanganan penyakit kelainan darah di Kabupaten Banyumas memasuki babak baru. Bertempat di Pendopo Si Panji, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengukuhkan kepengurusan Yayasan Thalassaemia Indonesia (YTI) Cabang Banyumas dan Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassaemia Indonesia (POPTI) Kabupaten Banyumas masa bakti 2026-2031. Rabu (11/2).

Dalam sambutannya, Bupati Sadewo menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah melalui RSUD Banyumas dan pengurus baru untuk mewujudkan target zero kelahiran Thalasemia Mayor di wilayah "Satria".

Bupati Banyumas dalam kesempatan tersebut mengapresiasi peran aktif YTI dan POPTI selama ini dalam mendukung program pemerintah, khususnya dalam kampanye pencegahan dan pengendalian thalasemia. Ia menekankan pentingnya sinergi lintas sektor untuk menekan angka kelahiran kasus baru thalassaemia mayor di Indonesia.

"Tugas pengurus periode ini tidaklah ringan. Edukasi pra-nikah harus digencarkan hingga ke pelosok desa agar masyarakat paham pentingnya skrining darah," tegas Bupati. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen dalam meningkatkan kualitas hidup penyandang thalassaemia di Indonesia.

Acara pengukuhan yang dihadiri oleh perwakilan Kementerian Kesehatan, Kepala Dinas, tenaga medis, relawan, orang tua pasien, serta komunitas penyandang thalassaemia tersebut diawali dengan pembacaan surat keputusan kepengurusan baru, dilanjutkan dengan prosesi pengukuhan dan penyerahan bendera organisasi.

Ketua Yayasan Thalassaemia Indonesia terpilih masa bakti 2026–2031 dalam sambutannya menegaskan komitmen untuk memperluas edukasi dan skrining dini thalassaemia di berbagai daerah. “Kami akan memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, fasilitas layanan kesehatan, serta komunitas untuk mendorong deteksi dini dan pencegahan thalassaemia melalui program skrining pranikah dan edukasi berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua POPTI periode 2026–2031 menyampaikan bahwa organisasi akan terus menjadi wadah pendampingan bagi orang tua dan pasien thalassaemia. “Kami ingin memastikan setiap pasien mendapatkan akses pengobatan yang layak, dukungan psikososial, serta informasi yang benar mengenai tata laksana thalasemia,” katanya.

Dengan kepengurusan baru ini, Yayasan Thalassaemia Indonesia dan POPTI diharapkan mampu menghadirkan program-program inovatif dan berkelanjutan demi terwujudnya generasi bebas thalassaemia serta peningkatan kualitas hidup para penyandang thalassaemia di Tanah Air.