Penyuluh Ajarkan Keutamaan Shalat Tasbih di Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadan
Banyumas – Dalam bulan Ramadhan yang dipenuhi cahaya ibadah, lantunan ayat suci dan tasbih menggema lembut dari ruang belajar TPQ Nurul Huda. Di tempat yang bersahaja itu, puluhan santri duduk bersila dengan wajah penuh harap, menyimak setiap kalimat yang disampaikan oleh Muhammad Taubah, seorang penyuluh agama yang dengan penuh kesabaran dan kelembutan hati membimbing mereka memahami keutamaan Shalat Tasbih, khususnya di sepuluh malam terakhir bulan suci Ramadhan. Rabu (11/3)
Pada kesempatan itu bukan sekadar pertemuan belajar biasa. Ia terasa seperti perjumpaan antara ilmu, harapan, dan kerinduan kepada rahmat Allah SWT. Dengan suara tenang namun penuh makna, Muhammad Taubah mengajak para santri merenungi betapa luasnya kasih sayang Allah yang membuka pintu ampunan selebar-lebarnya pada penghujung Ramadhan.
“Anak-anakku,” tuturnya lembut, “di sepuluh malam terakhir Ramadhan, Allah menurunkan rahmat-Nya dengan cara yang begitu istimewa. Salah satu amalan yang dianjurkan untuk memperbanyak istighfar dan tasbih adalah Shalat Tasbih, shalat yang dipenuhi dengan pujian kepada Allah.”
Para santri yang masih belia itu terlihat menyimak dengan mata berbinar. Sebagian memegang buku catatan kecil, sebagian lagi menunduk khusyuk, seakan meresapi setiap pesan yang disampaikan. Suasana haru pun perlahan menyelimuti ruangan ketika sang penyuluh menjelaskan bahwa Shalat Tasbih adalah kesempatan bagi manusia untuk memohon ampun atas dosa-dosa yang mungkin tak disadari.
Dalam penyampaiannya, Muhammad Taubah mengutip sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda kepada pamannya, Abbas bin Abdul Muththalib:
"Wahai Abbas, wahai pamanku, maukah aku memberimu suatu pemberian? Maukah aku memberikan kepadamu sepuluh keutamaan? Jika engkau melakukannya, Allah akan mengampuni dosamu yang awal dan yang akhir, yang lama dan yang baru, yang tidak disengaja maupun yang disengaja…"
Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan tata cara Shalat Tasbih. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Penjelasan itu membuat para santri terdiam dalam kekaguman. Mereka mulai menyadari bahwa ibadah bukan sekadar kewajiban, melainkan jalan untuk membersihkan hati.
Di sela-sela pengajaran, Muhammad Taubah juga menekankan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah waktu yang sangat berharga bagi setiap muslim. Pada malam-malam itulah terdapat kemungkinan turunnya Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan.
“Bayangkan,” katanya dengan suara yang perlahan bergetar, “satu malam saja bernilai lebih dari delapan puluh tiga tahun ibadah. Maka jangan sia-siakan malam-malam ini.”
Beberapa santri tampak menunduk haru. Bagi mereka, pelajaran malam itu bukan hanya tentang tata cara shalat, tetapi juga tentang memahami cinta Allah yang begitu luas.
Pengurus TPQ Nurul Huda menyampaikan bahwa kegiatan pengajaran keagamaan seperti ini merupakan bagian dari upaya membentuk generasi Qurani yang tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.
“Kami berharap anak-anak tidak hanya pandai membaca Al-Qur’an, tetapi juga mencintai ibadah sejak usia dini,” ungkap salah satu pengurus dengan penuh harap.
Dan di TPQ Nurul Huda itu, bulan Ramadhan terasa begitu agung—seolah langit pun ikut menyaksikan anak-anak kecil yang belajar menyebut nama Tuhan dengan penuh cinta.
