Rawat Tradisi Muharam: Harmoni Islam dan Budaya Jawa di Grebeg Suran Grumbul Planjan
Oleh KUA Somagede
Somagede – Suasana hangat dan penuh kebersamaan menyelimuti Wilayah RW 06 Grumbul Planjan, Desa Somagede. Warga setempat kembali menggelar tradisi tahunan Syukuran Grebeg Suran, sebuah warisan budaya Jawa yang sarat akan nilai-nilai islami dalam memuliakan bulan suci Muharam (Sura). Senin (22/06)
Acara luhur ini turut dihadiri dan diapresiasi langsung oleh Penyuluh Agama Islam KUA Somagede, Nuryati, bersama Kepala Desa Somagede beserta jajaran perangkat desanya.
Kekhasan Grebeg Suran ini sudah terasa sejak pagi hari. Kegiatan diawali dengan prosesi penyembelihan kambing yang kemudian diolah dan dimasak secara bergotong-royong oleh warga. Semangat bahu-membahu ini menjadi simbol kuatnya kerukunan antarwarga Grumbul Planjan.
Setelah hidangan siap, puncak acara pun dimulai. Warga berkumpul dengan khidmat untuk memanjatkan doa bersama, memohon keberkahan, keselamatan, serta rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Sang Pencipta.
Ada pemandangan menarik yang mempertegas kentalnya adat Jawa dalam acara ini. Ibu-ibu warga RW 06 datang membawa takir (wadah makanan dari daun pisang yang dijepit lidi). Tak sedikit pula yang membawa makanan tersebut menggunakan tenong—wadah anyaman bambu tradisional berbentuk bulat.
"Tradisi ini adalah bukti nyata bagaimana ajaran Islam dan budaya Jawa bisa berjalan beriringan secara harmoni. Memuliakan bulan Muharam dengan bersedekah, berdoa, dan mempererat silaturahmi," ujar Nuryati, di sela-sela acara.
Acara kemudian ditutup dengan kepungan, yaitu tradisi makan bersama dari takir-takir yang telah dikumpulkan. Tidak ada sekat, semua membaur menikmati hidangan dalam suasana kekeluargaan yang erat.
Bagi masyarakat Desa Somagede, Grebeg Suran bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan refleksi spiritual dan perekat sosial yang akan terus dijaga dari generasi ke generasi. (Nuryati)
