Secangkir Keakraban di Hok Tek Bio, Rawat Kerukunan Lintas Iman di Sokaraja
Oleh KUA Sokaraja
Sokaraja — Kerukunan sering kali tumbuh dari hal-hal sederhana: duduk bersama, berbincang dengan terbuka, dan saling menghargai. Semangat tersebut tergambar dalam kegiatan “Sambang Ngopi” yang dilakukan Muhamad Nuh, Penyuluh Agama Islam KUA Sokaraja, saat bersilaturahmi di Klenteng Hok Tek Bio Sokaraja. Rabu (30/09)
Dalam suasana yang santai dan penuh keakraban, Muhamad Nuh berbincang dengan Budi Leksana, yang dikenal sebagai Bio Kong dan telah kurang lebih 12 tahun menjalankan pengabdian di lingkungan Klenteng Hok Tek Bio.
Pertemuan berlangsung bersamaan dengan aktivitas Budi Leksana yang tengah membersihkan sejumlah ruang suci peribadatan. Sambil menjalankan tugasnya, Budi dengan ramah menjawab berbagai pertanyaan dalam percakapan ringan mengenai keberadaan klenteng, aktivitas keagamaan, serta kehidupan masyarakat yang berada di sekitarnya.
Suasana tersebut menunjukkan bahwa dialog lintas iman tidak harus selalu berlangsung dalam forum resmi. Percakapan sederhana di ruang kehidupan sehari-hari justru dapat menjadi pintu untuk saling mengenal dan memahami.
Muhamad Nuh menyampaikan bahwa silaturahmi seperti ini merupakan bagian dari kepedulian penyuluh dalam membangun komunikasi lintas iman di wilayah Kecamatan Sokaraja. Menurutnya, penyuluh agama memiliki ruang untuk hadir tidak hanya dalam kegiatan internal keagamaan, tetapi juga dalam membangun hubungan sosial yang sehat dengan seluruh elemen masyarakat.
Dalam konteks PKUB Kecamatan Sokaraja, komunikasi lintas iman menjadi salah satu ikhtiar untuk menjaga suasana kehidupan masyarakat agar tetap damai, tenteram, dan saling menghormati.
“Kerukunan tidak lahir karena kita semua sama. Kerukunan tumbuh karena kita mampu menghargai perbedaan dan tetap memilih untuk berjalan bersama,” menjadi semangat yang tercermin dalam silaturahmi tersebut.
Klenteng Hok Tek Bio sendiri menjadi salah satu ruang penting dalam kehidupan keberagaman masyarakat Sokaraja. Kehadiran penyuluh agama dalam kegiatan silaturahmi lintas iman menjadi bentuk nyata upaya membangun kepedulian, komunikasi, dan integritas dalam kehidupan bersama.
Dari sebuah “sambang ngopi”, pesan yang dibawa menjadi jauh lebih besar: merawat persaudaraan tidak selalu membutuhkan kata-kata besar. Kadang cukup dengan hadir, mendengar, bertanya dengan hormat, dan membuka ruang persahabatan.
Melalui kegiatan tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Sokaraja terus mendorong semangat “berbeda keyakinan, tetap bersahabat; berbeda cara beribadah, tetap menjaga kedamaian.” Sebuah ikhtiar sederhana untuk menjadikan keberagaman sebagai kekuatan dalam membangun Sokaraja yang rukun dan tenteram.
