Sinergi Lintas Sektoral : Fokus Penurunan Stunting dan Peningkatan Status Gizi 2026
Purwokerto – Upaya percepatan penurunan angka stunting menjadi agenda prioritas dalam Rapat Koordinasi Lintas Sektoral sekaligus Pra-Musrenbang yang digelar di Pendopo Kecamatan Purwokerto Timur. Acara ini dihadiri oleh jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkompincam), termasuk Penyuluh Agama Islam KUA Purwokerto Timur, Yayuk Septimawati. Kamis (05/02)
Camat Purwokerto Timur, Oka Yudhistira Pranayudha, dalam arahannya menekankan bahwa pembahasan mengenai stunting merupakan instruksi langsung dari pemerintah pusat yang harus dikawal secara konsisten.
"Jangan bosan membahas stunting. Agenda hari ini adalah paparan, dialog, dan diskusi untuk mencari solusi nyata. Saat ini prevalensi stunting di Purwokerto Timur berada di angka 13,94%, lebih rendah dibanding angka Kabupaten yang mencapai 18,2%. Namun, kita ingin angka yang lebih terukur secara kualitatif agar penanganan tepat sasaran," tegas Oka.
Ia juga menitipkan pesan khusus kepada para bidan dan tenaga kesehatan untuk menjaga agar tidak ada Angka Kematian Ibu (AKI). "Target harus jelas agar pada akhir tahun 2026 nanti, evaluasi kita menunjukkan penurunan yang signifikan," tambahnya.
Dalam sesi pemaparan, Siti Azizah menjelaskan transisi fokus penanganan stunting. Jika periode 2021-2024 fokus pada penurunan angka, maka periode 2025-2029 akan lebih menitikberatkan pada tiga indikator proses untuk meningkatkan status gizi.
Adapun siklus penanganan tahunan yang direncanakan meliputi: Januari: Analisis situasi. Februari: Pematangan pelaksanaan. Desember: Penilaian hasil monitoring dan evaluasi (Monev).
Pihak Puskesmas 1 Purwokerto Timur mengungkapkan beberapa kendala lapangan, terutama tingginya mobilitas ibu hamil yang menyulitkan pemantauan.
"Ibu hamil wajib memeriksakan kehamilan minimal 6 kali ke Puskesmas. Kelas ibu hamil menjadi sangat krusial untuk memantau kesehatan mereka, termasuk memantau Inisiasi Menyusu Dini (IMD) serta anak-anak yang berat badannya tidak kunjung naik," ungkap perwakilan Puskesmas.
Yayuk Septimawati sebagai Penyuluh Agama Islam turut mencatat poin-poin penting dalam rapat ini untuk diintegrasikan ke dalam program bimbingan di masyarakat. Peran tokoh agama dan penyuluh dianggap vital dalam mengedukasi calon pengantin dan keluarga muda terkait pola asuh dan gizi dari perspektif agama dan kesehatan.
Hasil dari Pra-Musrenbang ini akan disusun menjadi daftar usulan prioritas yang akan dibawa ke tingkat Kabupaten Banyumas guna memastikan dukungan anggaran dan kebijakan yang lebih luas. (jw)
