Teladani Ketangguhan Ibu Hajar - Bimluh Penyuluh Somagede di Rutan Banyumas

Oleh HUMAS
SHARE

Banyumas - Bimbingan spiritual keagamaan merupakan pilar krusial dalam proses rehabilitasi warga binaan di Rumah Tahanan (Rutan). Melalui pendekatan yang humanis dan teologis, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Somagede kembali hadir menggelar kegiatan Bimbingan Penyuluhan (Bimluh) berkala di Rutan Banyumas. Kegiatan yang berlangsung khidmat ini menghadirkan Yasaroh selaku narasumber utama. Kali ini, tema yang diangkat sangat menyentuh hati dan relevan dengan kondisi psikologis para warga binaan, yakni "Meneladani Ketangguhan Ibu Hajar". Pembahasan ini sengaja dipilih untuk membangkitkan kembali optimisme dan kekuatan mental spiritual yang mungkin sempat meredup di balik jeruji besi. Selasa (02/06)

Kehadiran Penyuluh Agama Islam Kecamatan Somagede di Rutan Banyumas bukan sekadar rutinitas formalitas, melainkan sebuah misi kemanusiaan dan keagamaan yang mendalam. Masa penahanan sering kali memicu tekanan mental, kecemasan, hingga rasa putus asa bagi sebagian warga binaan. Di sinilah peran penting bimbingan keagamaan sebagai oase spiritual. Yasaroh dalam mukadimahnya menyampaikan bahwa jeruji besi bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah halte ruang jeda yang diberikan oleh Allah SWT agar manusia dapat berkontemplasi, menghitung bekal diri, dan memperbaiki arah hidup.

Melalui pendekatan literasi keagamaan yang inklusif, bimbingan ini diarahkan untuk mengubah paradigma warga binaan. Tempat pembinaan ini harus dijadikan sebagai laboratorium spiritual, di mana setiap individu memiliki kesempatan emas untuk bertobat, belajar Al-Qur'an, dan memperdalam pemahaman fiqih serta akhlak, sehingga saat kembali ke masyarakat nanti, mereka siap menjadi agen perubahan yang positif.

Memasuki inti materi, Yasaroh membedah secara komprehensif sejarah dan dinamika kehidupan Siti Hajar (Ibu Hajar), istri dari Nabi Ibrahim AS sekaligus ibunda dari Nabi Ismail AS. Kisah dimulai ketika Siti Hajar harus ditinggalkan di sebuah lembah yang tandus, gersang, tanpa air, dan tanpa tanda-tanda kehidupan manusia, yakni di Makkah. Dalam pandangan logika manusia, situasi tersebut adalah puncak dari kesengsaraan dan ujian fisik maupun mental.

"Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini? Jika benar, maka Dia tidak akan pernah menelantarkan kami." — Sebuah representasi keteguhan iman yang diucapkan Siti Hajar di tengah kesunyian gurun pasir.

Namun, apa yang membuat Siti Hajar bertahan dan justru menjadi madrasah sejarah bagi umat manusia? Kuncinya terletak pada komitmen tauhid yang sangat kokoh. Ketika ia mengetahui bahwa keputusan tersebut adalah perintah lurus dari Allah SWT, maka seketika sirna segala keraguan dan ketakutan dalam hatinya. Sikap inilah yang disebut sebagai representasi teologis tertinggi dari konsep tawakal dan ketangguhan seorang hamba.

Keteguhan Iman di Tengah Kesendirian: Ibu Hajar membuktikan bahwa ketika seluruh dunia tampak meninggalkan kita, selagi kita memiliki Allah SWT, maka kita memiliki segalanya. Iman menjadi jangkar yang menjaga hati dari keputusasaan.
Kegigihan Berikhtiar Tanpa Batas: Sikap ini tecermin jelas dari peristiwa lari-lari kecil antara bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Ibu Hajar tahu bahwa air tidak akan turun begitu saja tanpa ada usaha, meskipun secara kasat mata bukit tersebut sangat kering. Ikhtiar adalah wilayah manusia, sedangkan hasil adalah hak mutlak Allah.
Optimisme Terhadap Ketetapan Allah: Beliau tidak pernah mengeluh atau menyalahkan keadaan. Optimisme inilah yang kemudian mengundang mukjizat Allah dengan memancarnya mata air Zamzam dari hentakan kaki bayi Ismail, sebuah sumber kehidupan yang manfaatnya dirasakan hingga hari ini.

Kisah ketangguhan Ibu Hajar ini ditarik secara linier dan kontekstual oleh Ibu Yasaroh dengan realitas kehidupan yang sedang dijalani oleh para warga binaan di Rutan Banyumas. Ibu Yasaroh menambahkan bahwa kondisi berada di dalam Rutan memiliki kemiripan psikologis dengan kondisi Siti Hajar saat berada di lembah Makkah; sama-sama berada dalam ruang keterbatasan, ruang isolasi, dan jauh dari zona kenyamanan keluarga.

Warga binaan diajak untuk tidak meratapi nasib secara berlebihan, melainkan meniru determinasi Ibu Hajar. Jika Ibu Hajar merespons keterbatasan dengan berlari antara Safa dan Marwah, maka warga binaan harus merespons keterbatasan di Rutan dengan aktif mengikuti program pembinaan, memperbanyak zikir, mengasah keterampilan kerja, dan menata kembali kesehatan mental serta spiritualnya.