Umat Hindu Banyumas Maknai Malam Siwaratri sebagai Transformasi Kesadaran
Oleh HUMAS
Banyumas – Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, umat Sedharma di Kabupaten Banyumas membuktikan bahwa keheningan merupakan kekuatan besar untuk melakukan transformasi diri. Pelaksanaan rangkaian Hari Suci Siwaratri menjadi momentum penting dalam membentuk karakter manusia yang sadar diri, mampu memanusiakan sesama, serta menjaga harmoni alam. Minggu (18/01/26)
Kabupaten Banyumas bergetar dalam doa melalui pelaksanaan Siwa Puja sebanyak 1008 kali. Kegiatan sakral ini dipusatkan di dua lokasi utama, yakni Pura Awatara, Purwokerto, dan Pura Pedaleman Giri Kendeng, Klinting. Keberhasilan acara ini merupakan hasil sinergi dan gotong royong antara Pengempon Pura, Pemangku, Serati, serta semangat muda dari jajaran Peradah.
Salah satu momen paling menyentuh adalah dedikasi dari Pak Mangku Ketut Mustika. Meski tengah dalam masa pemulihan pasca-operasi katarak, beliau tetap melayani umat dengan totalitas dan keikhlasan tanpa batas, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang bagi pengabdian yang tulus.
Melalui kisah Lubdaka, seorang pemburu yang mendapatkan pencerahan, umat diajak untuk melakukan refleksi diri yang mendalam melalui tiga pilar utama Brata Siwaratri. Pilar pertama adalah Upawasa, yaitu tindakan tidak makan dan minum sebagai bentuk latihan pengendalian diri dari berbagai keinginan duniawi. Selanjutnya adalah Mona Brata, di mana umat tidak berbicara untuk mengelola lisan serta belajar mendengarkan suara hati. Terakhir adalah Jagra, yaitu upaya menjaga kewaspadaan jiwa dengan tidak tidur semalam suntuk agar tidak terlelap dalam kegelapan ketidaktahuan.
Sebagai upaya mewujudkan masyarakat yang damai dan bahagia atau Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma, perayaan Siwaratri menekankan beberapa poin penting untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, perlu adanya internalisasi kesadaran dengan menjadikan setiap bentuk aktivitas sebagai ibadah yang didasari oleh kesadaran penuh atau mindfulness. Selanjutnya, spiritualitas harus dijadikan sebagai benteng untuk memperkuat ketahanan mental masyarakat melalui pendekatan nilai-nilai keagamaan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Terakhir, perayaan ini mendorong terciptanya harmoni sosial, di mana manusia yang memiliki kesadaran diri yang matang secara otomatis akan memanusiakan sesamanya serta aktif menjaga kelestarian alam sekitar.
Malam suci ini memberikan pesan bahwa setiap orang memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan pencerahan. Dengan menjalankan tugas dan kewajiban penuh kesadaran, niscaya kedamaian serta kebahagiaan akan menyertai selamanya.
2.png)