HUT RI #81

Wujudkan Ekoteologi, Penyuluh KUA Sokaraja Dampingi Jamaah MT Al-Falah Panen Kacang Hijau

Oleh KUA Sokaraja
SHARE

Sokaraja – Upaya mewujudkan ekoteologi Islam terus dilakukan Penyuluh Agama Islam KUA Sokaraja melalui pendampingan masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan lingkungan secara produktif. Salah satunya dilakukan dengan mendampingi jamaah Majelis Taklim (MT) Al-Falah dalam kegiatan panen kacang hijau. (Jumat 25/09)


Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan keagamaan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan spiritualitas, tetapi juga mendorong kepedulian terhadap lingkungan dan kemandirian ekonomi jamaah. Dalam kegiatan tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Sokaraja hadir bersama jamaah MT Al-Falah untuk memanen kacang hijau yang sebelumnya telah dibudidayakan secara bersama-sama. Suasana panen berlangsung penuh kebersamaan, gotong royong, dan kekeluargaan.


Melalui kegiatan ini, jamaah diajak memahami bahwa menjaga dan mengelola alam merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Lahan yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif sekaligus menjadi sarana mempererat ukhuwah antarjamaah.


Ekoteologi menjadi pendekatan penting dalam kegiatan tersebut, yakni membangun kesadaran bahwa hubungan manusia dengan Allah juga tercermin melalui cara manusia memperlakukan alam. Bertani, merawat tanaman, menjaga kesuburan tanah, dan memanfaatkan hasil bumi secara bijak merupakan bentuk syukur atas nikmat Allah SWT.


Dampak Kegiatan
Kegiatan panen kacang hijau tersebut memberikan sejumlah dampak positif bagi jamaah. Pertama, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan melalui pemanfaatan lahan secara produktif. Kedua, menumbuhkan semangat kemandirian ekonomi jamaah dengan mengembangkan kegiatan pertanian yang memiliki nilai manfaat dan ekonomi.
Ketiga, kegiatan tersebut memperkuat ukhuwah dan gotong royong karena jamaah terlibat secara langsung mulai dari proses budidaya hingga panen. Keempat, kegiatan menjadi media dakwah yang lebih kontekstual, karena nilai-nilai keislaman disampaikan melalui aktivitas nyata yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.


Dengan demikian, majelis taklim tidak hanya menjadi tempat untuk menambah ilmu agama, tetapi juga dapat menjadi ruang pemberdayaan masyarakat, kepedulian lingkungan, serta penguatan ekonomi umat. Kegiatan tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan sehingga jamaah MT Al-Falah semakin memiliki kesadaran bahwa merawat bumi adalah bagian dari ibadah, memanfaatkan alam secara bijak adalah bentuk syukur, dan memberdayakan hasil bumi merupakan ikhtiar menuju kemandirian umat.
“Dari majelis taklim tumbuh ilmu, dari kepedulian lahir gerakan, dan dari tanah yang dirawat tumbuh keberkahan bagi umat.”