Inovasi Kurikulum, Siswa MTs Maarif NU 1 Kedungbanteng Olah Alam Menjadi Batik Ecoprint
Oleh HUMAS
Banyumas – MTs Ma’arif NU 1 Kedungbanteng menggelar kegiatan kokurikuler kreatif berupa pelatihan pembuatan batik ecoprint. Kegiatan yang berlangsung di lingkungan madrasah ini diikuti oleh ratusan siswa dengan memanfaatkan bahan-bahan alami dari lingkungan sekitar. Sabtu (07/02/26)
Kegiatan ini diinisiasi secara kolaboratif oleh Kepala Madrasah dan Wakil Kepala (Waka) Bidang Kurikulum sebagai bagian dari penguatan karakter dan keterampilan praktis siswa. Pelatihan ini bertujuan untuk menjembatani teori yang dipelajari di kelas dengan praktik lapangan yang bernilai seni serta ekonomi.
Kepala MTs Ma’arif NU 1 Kedungbanteng menyampaikan bahwa pemilihan batik ecoprint didasari oleh konsep pendidikan berkelanjutan. Berbeda dengan batik konvensional yang sering kali menggunakan zat kimia sintetis, ecoprint sepenuhnya menggunakan pigmen alami dari dedaunan dan bunga.
"Kami ingin menanamkan kesadaran lingkungan kepada siswa sejak dini. Dengan ecoprint, siswa belajar bahwa alam menyediakan segalanya, asalkan kita kreatif dan bijak dalam mengelolanya," ujar Kepala Madrasah di sela-sela pemantauan kegiatan.
Senada dengan hal tersebut, Waka Bidang Kurikulum menjelaskan bahwa kegiatan kokurikuler ini merupakan implementasi dari pengembangan kurikulum yang adaptif. Menurutnya, siswa perlu dibekali dengan kecakapan hidup (life skills) agar memiliki daya saing setelah lulus nantinya.
Waka Kurikulum MTs Ma’arif NU 1 Kedungbanteng menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar mengisi waktu luang.
"Kami ingin siswa tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki keterampilan vokasi. Ecoprint dipilih karena ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Ini sejalan dengan semangat kurikulum kita yang menekankan pada penguatan profil pelajar yang kreatif dan mandiri," ujarnya di sela-sela kegiatan.
Proses pembuatan batik yang diikuti siswa meliputi beberapa tahap teknis:
• Pembersihan Kain (Scouring): Menghilangkan lapisan lilin atau kotoran pada kain.
• Pemberian Mordan: Mengolah kain agar pori-porinya terbuka dan siap menyerap warna alami.
• Pencetakan (Printing): Menata dedaunan seperti daun jati, jarak, dan kenikir di atas kain untuk menciptakan motif.
• Pengukusan (Steaming): Proses penguncian warna melalui uap panas selama kurang lebih dua jam.
Antusiasme terlihat jelas saat para siswa mulai membuka gulungan kain yang telah dikukus. Berbagai motif unik dengan gradasi warna bumi (earth tone) muncul secara alami, menciptakan kebanggaan tersendiri bagi para peserta.
Pihak madrasah berencana untuk memamerkan hasil karya terbaik siswa pada ajang pertemuan wali murid dan pameran pendidikan tingkat kabupaten. Selain sebagai dokumentasi prestasi, hal ini diharapkan dapat memotivasi siswa untuk terus berinovasi dalam bidang kewirausahaan kreatif.
2.png)