Menyalakan Cinta kepada Rasulullah SAW
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, anak-anak membutuhkan teladan yang tidak hanya mengajarkan mereka cara menjadi pintar, tetapi juga menunjukkan bagaimana menjadi manusia yang baik. Semangat itulah yang mewarnai kegiatan pengajian dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di SDN Tunjung Kulon, dengan menghadirkan Rais Rudiansyah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, sebagai pengisi pengajian. (Senin, 24/8)
Dalam kesempatan tersebut, Rais Rudiansyah menyampaikan pesan-pesan keagamaan tentang keteladanan Rasulullah SAW. Pengajian dikemas dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami, sehingga pesan tentang akhlak, kasih sayang, kejujuran, serta kecintaan kepada Rasulullah dapat diterima dengan baik oleh para peserta.
Menurutnya, memperingati Maulid Nabi bukan sekadar mengenang hari kelahiran Rasulullah SAW. Lebih dari itu, Maulid merupakan momentum untuk kembali bertanya kepada diri sendiri sejauh mana umat Islam telah meneladani kehidupan manusia paling mulia yang pernah berjalan di muka bumi.
Rasulullah SAW adalah teladan dalam begitu banyak keadaan. Beliau mengajarkan kejujuran ketika dipercaya, kesabaran ketika diuji, kelembutan ketika menghadapi perbedaan, serta kasih sayang kepada anak-anak dan seluruh manusia. Nilai-nilai tersebut sangat penting ditanamkan sejak usia dini agar tumbuh menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan generasi penerus.
Rais Rudiansyah juga mengajak para siswa untuk mencintai Nabi Muhammad SAW melalui tindakan nyata. Cinta kepada Rasulullah tidak cukup hanya dengan mengucapkan selawat atau mengagungkan namanya, tetapi harus dibuktikan dengan mengikuti akhlaknya—menghormati orang tua, menyayangi guru, menyayangi teman, berkata jujur, rajin belajar, dan senang membantu sesama.
Pesan itu terasa begitu dekat dengan kehidupan anak-anak. Sebab sekolah bukan hanya tempat untuk mengisi kepala dengan pengetahuan, tetapi juga tempat menanam hati dengan akhlak. Kepandaian dapat membuat seseorang dikenal, tetapi akhlak yang baik akan membuat seseorang dikenang.
Dalam suasana peringatan Maulid Nabi tersebut, terselip harapan agar generasi muda tidak kehilangan arah di tengah derasnya perubahan zaman. Mereka diharapkan tumbuh menjadi generasi yang cerdas sekaligus santun, berani meraih cita-cita namun tetap rendah hati, serta mampu menggunakan ilmu yang dimiliki untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Ada sebuah renungan yang indah dari kehidupan Rasulullah SAW: beliau tidak meninggalkan kemewahan sebagai warisan, tetapi meninggalkan akhlak yang hingga kini menerangi kehidupan miliaran manusia. Rumah beliau sederhana, kehidupannya penuh perjuangan, tetapi namanya terus disebut dengan penuh cinta dari generasi ke generasi.
Itulah sebabnya, mengenalkan Rasulullah kepada anak-anak berarti sedang menanam benih cinta yang kelak diharapkan tumbuh menjadi karakter. Barangkali hari ini mereka hanya mendengar kisah tentang kelembutan Nabi, tetapi suatu hari nanti kisah itu dapat menjadi alasan mereka memilih untuk tidak menyakiti orang lain.
Kegiatan pengajian Maulid Nabi di SDN Tunjung Kulon pun menjadi ruang untuk mempertemukan ilmu dan keteladanan. Rais Rudiansyah hadir membawa pesan bahwa pendidikan agama akan semakin bermakna apabila mampu menyentuh hati dan mengubah perilaku.
Semoga dari ruang sederhana di SDN Tunjung Kulon lahir generasi yang mencintai Rasulullah bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan akhlak. Semoga setiap anak yang hari ini mendengarkan kisah Nabi kelak menjadi manusia yang membuat orang tuanya tersenyum, gurunya bangga, masyarakat merasa aman, dan agamanya menjadi indah karena perilakunya.
