Belajar Memahami, Menahan Ego dan Menumbuhkan Kedewasaan
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Di balik setiap pernikahan yang kokoh, selalu ada proses panjang yang tak kasat mata: belajar memahami, menahan ego, dan menumbuhkan kedewasaan. Semangat itulah yang terasa hangat dalam kegiatan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang digelar di Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang. Kamis (09/04)
Paryanto, staf KUA Jatilawang, dengan penuh ketulusan memberikan pembekalan kepada calon pengantin, Dedi dan Eni Daniati. Dalam suasana yang sederhana namun sarat makna, ia menyampaikan materi tentang pentingnya kedewasaan dalam kehidupan berumah tangga—sebuah fondasi yang kerap tak terlihat, namun menentukan arah bahtera rumah tangga ke depan.
Dengan bahasa yang ringan namun menyentuh, Paryanto mengajak pasangan tersebut untuk memahami bahwa pernikahan bukan sekadar tentang cinta yang berbunga, tetapi tentang kesiapan untuk bertumbuh bersama di tengah berbagai ujian kehidupan.
“Cinta bisa datang dengan indah, tetapi mempertahankannya membutuhkan kedewasaan. Dalam rumah tangga, yang diuji bukan hanya perasaan, tetapi juga kesabaran, tanggung jawab, dan kemampuan untuk saling memahami,” tuturnya dengan penuh kehangatan.
Dedi dan Eni Daniati tampak menyimak dengan seksama. Sesekali, keduanya saling berpandangan, seolah menemukan makna baru dari perjalanan yang akan segera mereka tempuh. Di balik senyum yang terukir, tersimpan harapan agar kelak mampu menjalani kehidupan rumah tangga dengan bijaksana dan penuh tanggung jawab.
Materi yang disampaikan tidak hanya menyentuh aspek teoritis, tetapi juga menggugah sisi emosional. Paryanto menekankan bahwa kedewasaan bukanlah tentang usia, melainkan tentang cara seseorang bersikap ketika dihadapkan pada perbedaan dan konflik.
“Kedewasaan adalah saat kita mampu memilih untuk tetap bertahan, meski keadaan tidak selalu sesuai harapan. Ia adalah tentang mengalah tanpa merasa kalah, dan memaafkan tanpa harus diminta,” imbuhnya.
Suasana pun menjadi hening, seolah setiap kalimat yang terucap meresap perlahan ke dalam hati. Ada kesadaran yang tumbuh, bahwa membangun rumah tangga bukan perkara mudah, tetapi juga bukan sesuatu yang mustahil selama dijalani dengan niat tulus dan hati yang lapang.
Kegiatan Bimwin ini menjadi bukti bahwa KUA Jatilawang tidak hanya hadir sebagai lembaga pencatat pernikahan, tetapi juga sebagai pembimbing yang mengantarkan pasangan menuju kehidupan yang lebih matang dan bermakna.
Di akhir sesi, doa dipanjatkan dengan penuh harap—agar Dedi dan Eni Daniati mampu mengarungi bahtera rumah tangga dengan kedewasaan, kesabaran, dan cinta yang terus tumbuh. Karena pada akhirnya, pernikahan bukanlah tentang menemukan pasangan yang sempurna, melainkan tentang belajar mencintai dengan cara yang lebih dewasa, setiap hari, sepanjang usia.
