Bertahan dalam Keikhlasan, Mendidik dengan Cinta dan Mengabdi Tanpa Lelah

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Suasana khidmat bercampur haru menyelimuti Aula Balai Desa Kedungwringin saat Peringatan Hari Kartini tingkat Kecamatan Jatilawang digelar dengan penuh makna. Di tengah balutan kebaya yang anggun dan senyum yang menyimpan keteguhan, para perempuan dari berbagai penjuru desa berkumpul, merayakan semangat emansipasi yang tak lekang oleh waktu. Jumat (24/04)

Di antara mereka, hadir Dwi Astuti, Penyuluh Agama dari KUA Jatilawang, yang dengan langkah sederhana namun penuh arti turut menyemarakkan peringatan tersebut. Kehadirannya bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan membawa semangat pengabdian—menghidupkan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh Raden Ajeng Kartini kepada perempuan Indonesia.

Acara yang berlangsung di Aula Baldes Kedungwringin itu diisi dengan berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari sambutan, penampilan seni, hingga refleksi perjuangan perempuan masa kini. Namun di balik setiap rangkaian acara, terselip pesan yang dalam: bahwa perempuan adalah pilar peradaban, penjaga nilai, sekaligus penggerak perubahan.

Dalam kesempatan tersebut, Dwi Astuti menyampaikan pandangannya tentang peran perempuan dalam membangun keluarga dan masyarakat yang berakhlak. Dengan suara yang lembut namun menggetarkan, ia mengajak para peserta untuk meneladani semangat Kartini, tidak hanya dalam memperjuangkan kesetaraan, tetapi juga dalam menjaga martabat, keimanan, dan ketulusan dalam setiap peran yang dijalani.

“Menjadi perempuan bukanlah tentang siapa yang paling kuat, tetapi tentang siapa yang paling mampu bertahan dalam keikhlasan, mendidik dengan cinta, dan mengabdi tanpa lelah,” ungkapnya, membuat suasana sejenak hening, seolah setiap kata meresap ke dalam relung hati yang paling dalam.

Beberapa pasang mata tampak berkaca-kaca. Ada yang teringat perjuangan seorang ibu, ada pula yang mengenang perjalanan hidup yang penuh liku. Di ruang itu, tangis bukanlah tanda kelemahan, melainkan bahasa hati yang jujur—tentang betapa besar arti pengorbanan seorang perempuan.

Peringatan Hari Kartini kali ini tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga ruang perenungan. Bahwa perjuangan belum usai. Bahwa setiap perempuan, dalam diamnya, tengah menulis sejarahnya sendiri—melalui kesabaran, keteguhan, dan cinta yang tak pernah putus.

Bagi Dwi Astuti, keikutsertaannya dalam kegiatan ini adalah bagian dari upaya merawat semangat kebersamaan dan penguatan peran perempuan di tengah masyarakat. Ia percaya, ketika perempuan dikuatkan, maka keluarga akan kokoh, dan dari sanalah bangsa yang besar akan tumbuh.

Saat acara usai dan langkah-langkah mulai meninggalkan aula, yang tersisa bukan sekadar gema suara dan rangkaian acara, melainkan nyala semangat yang terus hidup. Semangat Kartini yang menjelma dalam sosok-sosok perempuan sederhana—yang mungkin tak dikenal dunia, namun jasanya terasa hingga ke relung kehidupan.

Dan di Kedungwringin hari itu, sejarah kecil kembali ditulis. Bukan dengan tinta dan kertas, melainkan dengan air mata, doa, dan tekad yang tak tergoyahkan. Sebuah pengingat bahwa dalam setiap perempuan, selalu ada cahaya yang siap menerangi dunia.