Di Tengah Sakit, Ibu Sutini Kembali Menemukan Kekuatan untuk Beribadah
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Di tengah suasana sederhana ruang perawatan Puskesmas Kecamatan Jatilawang, sebuah perjumpaan kecil menghadirkan makna yang begitu besar. Seorang pasien bernama Ibu Sutini, yang sedang menjalani perawatan karena sakit, mendapat pendampingan keagamaan dari Penyuluh Agama KUA Jatilawang. (Senin, 28/9)
Bukan sekadar datang untuk bertanya tentang kondisi kesehatan, kehadiran Penyuluh Agama kali ini membawa pesan yang lebih dalam: bahwa sakit bukan alasan untuk berhenti beribadah, dan keterbatasan fisik bukan penghalang bagi seorang hamba untuk tetap mendekat kepada Allah SWT.
Dengan penuh kesabaran dan kelembutan, Penyuluh Agama KUA Jatilawang mengajarkan kepada Ibu Sutini tata cara tayamum ketika tidak memungkinkan menggunakan air, sekaligus membimbing cara melaksanakan shalat dalam kondisi sakit, sesuai kemampuan yang dimiliki.
Perlahan, setiap tahapan dijelaskan dengan bahasa yang sederhana. Tidak ada kesan menggurui. Yang hadir justru suasana penuh kekeluargaan—seolah seorang anak sedang menuntun ibunya untuk kembali menemukan jalan menuju Tuhannya.
“Dalam keadaan sehat kita bisa berdiri dengan mudah. Tetapi ketika sakit, Allah tidak meninggalkan kita. Justru Allah memberikan kemudahan agar kita tetap bisa mengingat dan menyembah-Nya,” demikian pesan yang disampaikan dalam pendampingan tersebut.
Bagi Ibu Sutini, mungkin apa yang diberikan hari itu tampak sederhana. Namun di tengah rasa sakit, sebuah penjelasan tentang tayamum dan shalat dapat menjadi cahaya yang menenteramkan hati.
Sebab terkadang, yang paling dibutuhkan seseorang ketika sedang sakit bukan hanya obat untuk tubuh, tetapi juga ketenangan untuk jiwa.
Penyuluh Agama kemudian memberikan motivasi agar Ibu Sutini tetap sabar, tidak berputus asa, dan senantiasa berbaik sangka kepada Allah SWT. Doa pun dipanjatkan, memohon agar Allah memberikan kesembuhan, kekuatan, ketabahan, serta mengangkat segala rasa sakit yang sedang dirasakan.
Dalam suasana yang hening, doa itu terasa begitu dekat dengan kehidupan manusia. Bahwa setiap orang pada akhirnya akan sampai pada suatu masa ketika tubuh tidak lagi sekuat dahulu, langkah tidak lagi selebar biasanya, dan tangan mungkin tak lagi mampu melakukan banyak hal.
Pendampingan terhadap Ibu Sutini menjadi gambaran nyata bahwa tugas Penyuluh Agama tidak hanya berlangsung di ruang-ruang pengajian atau mimbar keagamaan. Penyuluh juga hadir di tengah masyarakat ketika seseorang sedang berada dalam keadaan paling lemah—ketika tubuh membutuhkan pertolongan dan hati membutuhkan penguatan.
Di tempat seperti Puskesmas, nilai-nilai agama hadir bukan untuk menambah beban orang yang sedang sakit, tetapi untuk meringankan langkahnya menuju kesembuhan.
Sebab ada kalanya satu nasihat mampu menguatkan hati. Satu doa mampu menumbuhkan harapan. Dan satu tangan yang dengan sabar menuntun cara bersuci dan shalat dapat membuat seseorang kembali merasa bahwa dirinya tidak sendirian.
Ibu Sutini mungkin datang ke Puskesmas untuk mendapatkan kesembuhan bagi tubuhnya. Tetapi hari itu, ia juga mendapatkan sesuatu yang tidak kalah berharga: sebuah pengingat bahwa dalam keadaan apa pun, Allah tetap dekat.(tum)
