Hangatnya Silaturahmi Perangkat Desa se-Kecamatan Wangon dengan Tausiyah Menyentuh dari Penyuluh Agama KUA Jatilawang

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Suasana penuh kehangatan dan haru menyelimuti Pendopo Kecamatan Wangon saat Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kecamatan Wangon menggelar pengajian dalam rangka Halal Bihalal dan silaturrahmi, sebuah momentum yang tak sekadar mempertemukan raga, tetapi juga menautkan kembali hati yang mungkin sempat berjarak oleh waktu. (Kamis, 9/4)

Acara yang dihadiri oleh Camat Wangon, Danramil Wangon, Kapolsek Wangon, serta seluruh perangkat desa se-Kecamatan Wangon ini menjadi ruang kebersamaan yang sarat makna. Dalam balutan nuansa Idulfitri yang masih terasa, setiap senyum dan jabat tangan seolah menjadi bahasa tanpa kata—bahwa memaafkan adalah keindahan yang menenangkan jiwa.

Pengajian yang menjadi inti kegiatan diisi oleh Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, yang dengan tutur kata lembut dan penuh hikmah berhasil menyentuh relung hati para hadirin. Dalam tausiyahnya, ia mengajak seluruh peserta untuk tidak sekadar menjadikan Halal Bihalal sebagai tradisi seremonial, melainkan sebagai jalan kembali kepada kesucian hati.

“Silaturrahmi bukan hanya tentang bertemu, tetapi tentang merawat rasa, menguatkan persaudaraan, dan menghapus segala luka yang mungkin pernah ada,” tuturnya dengan suara yang tenang namun menggetarkan.

Ia juga mengingatkan bahwa dalam kehidupan yang terus bergerak cepat, manusia kerap lupa bahwa kebahagiaan sejati justru lahir dari hubungan yang tulus dan hati yang lapang. Dengan menyitir nilai-nilai keikhlasan dan kebersamaan, ia mengajak seluruh perangkat desa untuk menjadi pelayan masyarakat yang tidak hanya bekerja dengan tenaga, tetapi juga dengan hati.

Beberapa hadirin tampak menunduk haru, sebagian lainnya mengusap air mata yang jatuh perlahan. Bukan karena kesedihan, melainkan karena tersentuh oleh keindahan pesan yang mengingatkan mereka akan arti hidup yang sesungguhnya.

Camat Wangon dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menekankan pentingnya menjaga kekompakan dan kebersamaan antar perangkat desa sebagai fondasi kuat dalam membangun masyarakat yang harmonis dan sejahtera.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama, memohon agar silaturrahmi yang terjalin tidak hanya berhenti di hari itu, tetapi terus mengalir dalam setiap langkah kehidupan. Di penghujung acara, suasana kembali cair dalam kebersamaan, tawa kecil dan obrolan hangat menjadi penanda bahwa hati-hati yang hadir telah kembali saling terhubung.

Di Pendopo Wangon hari itu, bukan hanya sebuah acara yang berlangsung, melainkan sebuah pelajaran hidup yang mengalir lembut—bahwa dalam memaafkan, manusia menemukan kedamaian, dan dalam silaturrahmi, manusia menemukan makna kehidupan.