HUT RI #81

Harmoni dalam Ketaatan Istri dan Perlindungan Suami

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
26 Mar 2026
22x dibaca
SHARE

Banyumas— Dalam suasana yang khidmat di KUA Jatilawang menjelma menjadi momen yang menggugah hati. Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, kembali menyampaikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin, Deny Hanif dan Lalita Baqis Prameswari, dengan tema yang mendalam: tentang istri yang menaati suami dan suami yang menjaga istri. Kamis (26/03)

Di tengah derasnya arus kehidupan modern yang kerap mengaburkan makna peran dalam rumah tangga, materi yang disampaikan terasa seperti oase yang menyejukkan jiwa. Dengan tutur kata yang lembut dan penuh hikmah, Muhammad Taubah menjelaskan bahwa ketaatan seorang istri bukanlah bentuk kelemahan, melainkan kemuliaan yang lahir dari keikhlasan dan cinta yang tulus. Sebaliknya, menjaga istri adalah amanah agung bagi seorang suami—sebuah tanggung jawab yang bukan hanya bersifat lahiriah, tetapi juga batiniah.

“Rumah tangga bukan sekadar tempat bernaung, tetapi ruang suci di mana dua jiwa saling menguatkan. Istri yang taat adalah peneduh hati, dan suami yang menjaga adalah pelindung jiwa,” tuturnya, mengalirkan makna yang perlahan menyentuh kedalaman perasaan.

Deny dan Lalita tampak larut dalam setiap nasihat yang disampaikan. Sesekali, mata mereka saling bertaut, seakan menguatkan janji yang belum terucap namun telah tertanam dalam hati. Dalam diam, keduanya memahami bahwa pernikahan bukan sekadar kebersamaan, tetapi perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, pengorbanan, dan ketulusan.

Bimbingan tersebut menegaskan bahwa ketaatan seorang istri harus dibingkai dengan cinta dan keimanan, bukan keterpaksaan. Begitu pula, penjagaan seorang suami tidak hanya berarti memberi nafkah, tetapi juga menghadirkan rasa aman, menghormati, dan memuliakan istri sebagai pasangan hidup yang setara di hadapan Tuhan.

Suasana semakin syahdu ketika doa dipanjatkan di penghujung sesi. Dalam lirih yang khusyuk, harapan terangkai agar Deny dan Lalita kelak mampu mengarungi bahtera rumah tangga dengan penuh keteguhan. Air mata yang jatuh perlahan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa hati mereka tersentuh oleh makna cinta yang sesungguhnya.

Bimwin ini menjadi lebih dari sekadar kegiatan pembinaan. Ia adalah pengingat bahwa dalam kehidupan rumah tangga, cinta tidak cukup hanya dirasakan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap saling menghormati, menaati dalam kebaikan, dan menjaga dengan sepenuh jiwa.

Sebab pada akhirnya, rumah tangga yang kokoh bukan dibangun oleh kemewahan, melainkan oleh hati yang saling menguatkan—istri yang setia dalam taat, dan suami yang teguh dalam menjaga. Di sanalah cinta menemukan bentuknya yang paling suci.